JAWA
A. Hakikat Filsafat
Driyarkara (2006:999-1001) menyatakan bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya. Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan luar biasa.
Secara etimologi, kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = kebijaksanaan). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf. Jadi, filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada kearifan.
Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan yaitu metafisika, etika agama dan antropologi. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika), apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika), sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama), apakah yang dinamakan manusia? (dijawab oleh antropologi).
- Penggolongan Filsafat
Ontologi, merupakan bagian dari filsafat yang paling umum. Ontologi merupakan metafisika umum, yang mempersoalkan adanya segala sesuatu yang ada. Metafisika atau ontologi yang membahas apakah arti ada itu, apakah kesempurnaannya, apakah tujuan, apakah sebab dan akibat, apa yang merupakan dasar yang terdalam dalam setiap barang yang ada.
Epistemologi, Driyarkara (2006:1019) menjelaskan salah satu cabang filsafat tentang pengetahuan adalah logika yang memuat logika formal yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukum memikir, yang harus ditaati supaya dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran serta logika material atau kritika (epistemology) yang memandang isi pengetahuan, bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari sumber-sumber dan asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan dan batas pengetahuan, kebenaran dan kekeliruan, metode ilmu pengetahuan, dan lain-lain.
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff terjemahan Sumargono, 2004:319).
B. Filsafat Jawa
Ciptoprawiro (1986:12) menyatakan terdapat perbedaan yang dalam antara sistem-sistem filsafat Barat dengan ungkapan-ungkapan renungan-renungan filsafat Jawa yang sering bersifat fragmentaris dan kurang nampak adanya hubungan yang jelas. Untuk menjelaskan perbedaan antara pemikiran filsafat Barat dan filsafat Jawa. Ciptoprawiro (1986: 14-15) mempergunakan jembatan keledai yaitu abjad dan alfabet. Dalam abjad ABCD yang kini umum dipergunakan, abjad Jawa hanacaraka senantiasa menceritakan sebuah kisah, yaitu kisah Aji Saka yang menggambarkan kedua abdinya yang saling bertengkar, sama kesaktiannya, dan akhirnya menemui ajalnya.
Filsafat Jawa, sebagaimana dikemukakan oleh Zoetmulder (dalam Kusbandriyo, 2007:13) mengandung pengetahuan filsafat yang senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, sehingga dapat dirumuskan bahwa filsafat berarti cinta kesempurnaan.
Dasar-dasar Filsafat Jawa
1. Filsafat Jawa berdasarkan ontologi
Mempersoalkan sesuatu yang ada. Darusuprapto (1991:3) dalam saduran Serat Centhini jilid satu, menyebutkan jenis pengetahuan Jawa antara lain mengenai hal ikwal yang bertalian dengan agama, mengenai beraneka ilmu: kebatinan, kekebalan, perkerisan, perumahan, dan pertanian; berbagai kesenian: kesusasteraan, karawitan, dan tari; bermacam primbon: perhitungan baik buruk hari atau waktu berjampi-jampi; berbagai jenis masakan makanan; adat istiadat dan cerita yang bertalian dengan peninggalan bangunan kuna setempat, dan sebagainya. Contoh pengetahuan tentang yang ada yang digunakan sebagai pedoman masyarakat pada masa itu adalah konsepsi pengetahuan memilih jodoh yang diuraikan Ki Ajar Sutikna kepada Cebolang, sebagaimana disebutkan pada pupuh 187, bait 30-32, kata Ki Ajar, ―Jika kamu akan memilih wanita yang baik, pantas dijadikan istri, silakan merenungkan makna kata-kata bobot, bebet, dan bibit.
2. Filsafat Jawa berdasarkan epistemologi
Memandang isi pengetahuan, bagaimana dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari sumber-sumber dan asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan dan batas pengetahuan, kebenaran dan kekeliruan, metode ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Dasar epistemologis Filsafat Jawa dapat dilihat dalam Serat Centhini yang isinya terdiri dari berbagai pengetahuan Jawa, sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan jilid-1 bahwa Serat Centhinimerupakan baboning sanggyaning pangawikan Jawi (induk semua pengetahuan 77 Jawa). Kusbandriyo (2007: 20-34) menjelaskan epistemologi Jawa bahwa dalam pandangan hidup manusia Jawa orang mencari pengetahuan yang ada hikmahnya bagi praktik kehidupan, untuk memahami dirinya, memperoleh informasi mengenai kebenaran tentang hidup dan kematian, tentang cara mencari dan menemukan Tuhan. Mereka tidak bertanya hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan bagaimana hubungan manusia, tegasnya aku dengan Tuhan. Dengan demikian, epistemologi Jawa adalah bagaimana mencari tahap ekstase sehingga diperoleh tahap widya. Rumusan ini dapat dilihat pada Serat Wedhatama tentang tahap sembah, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.
3. Filsafat Jawa berdarkanAksiologi
Aksiologi dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga dan logos berarti kajian tentang. Analisis atas nilai-nilai untuk menentukan makna, ciri, asal mula, corak, ukuran, dan kedudukan epistemologinya. Dasar-dasar aksiologi dalam Filsafat Jawa dapat dilihat dalam Serat Centhini yang bermuatan nilai yang tinggi sebagaimana digambarkan oleh Kamajaya (1996: 1-2), yang menyatakan bahwa Serat Centhini berisi segala sesuatu meliputi kehidupan orang Jawa lahir dan batin, filsafat, kebatinan, agama, hingga Ketuhanan yang rumit, mencakup tradisi, kekayaan alam, adat kebiasaan, kepercayaan, kesenian hingga persoalan seks. Ciptoprawiro (1986:25-26) menjelaskan aksiologi dalam filsafat Jawa dalam estetika dan etika. Dalaam estetika Jawa, dijelaskan (1) pada jaman Jawa-Hindu, keindahan selalu dianggap sebagai pangejawantahan dari yang Mutlak, maka semua keindahan adalah satu, dan (2) pada jaman Jawa-Islam, dalam kesusasteraan Suluk diperpadat duapuluh sifat dan sembilan puluh sembilan nama indah (asma‘ul husnah) Allah menjadi empat sifat, di mana keindahan dimasukkan Agung berarti Jalal, Elok berarti Jamal (Indah), Wisesa berarti Kahar (Kuasa), dan Sempurna berarti Kamal. Dalam etika Jawa dipermasalahkan adanya baik buruk yang mempengaruhi perilaku manusia dan yang berhubungan dengan Tuhan. Dalam filsafat Jawa, baik buruk dianggap tidak terlepas dari eksistensi manusia yang terjelma di dalam pelbagai keinginan dan dikaitkan dengan empat nafsu: mutmainah, amanah, lauwamah, dan supiah.
Referensi :
https://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Dr.%20Sutrisna%20Wibawa,%20M.Pd./BUKU%20FILSAFAT%20JAWA%20UTUH-Gabung.PDF (Filsafat Jawa oleh Sutrisna Wibawa)
Komentar
Posting Komentar