Pendidikan Bahasa Daerah (Jawa) A 2017
Hakikat Filsafat Jawa dalam buku Filsafat Jawa karya dr. Abdullah Ciptoprawiro
Filsafat diartikan suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar, apa yang ada dalam banyak perenungan di Jawa yaitu suatu usaha untuk mengartikan hidup dengan segala pangejawantahannya, manusia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang nampak dengan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, adalah merupakan pemikiran filsafat.
Perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia dan berarti: cinta kearifan (the love of wisdom). Bilamana kita pakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat berarti: ngudi kasampurnan, berusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan. Filsafat Jawa menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berfikir dan merenungi dirinya dalam rangka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup manusia Jawa. Pemikiran-pemikiran Jawa merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Bagi filsafat Jawa, pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Bagi filsafat Jawa dapatlah dirumuskan filsafat berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection). Berfilsafat dalam arti luas di dalam
Filsafat diartikan suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar, apa yang ada dalam banyak perenungan di Jawa yaitu suatu usaha untuk mengartikan hidup dengan segala pangejawantahannya, manusia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang nampak dengan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, adalah merupakan pemikiran filsafat.
Perkataan filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia dan berarti: cinta kearifan (the love of wisdom). Bilamana kita pakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat berarti: ngudi kasampurnan, berusaha mencari kesempurnaan. Sebaliknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan. Filsafat Jawa menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berfikir dan merenungi dirinya dalam rangka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup manusia Jawa. Pemikiran-pemikiran Jawa merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Bagi filsafat Jawa, pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Bagi filsafat Jawa dapatlah dirumuskan filsafat berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection). Berfilsafat dalam arti luas di dalam
kebudayaan Jawa berarti ngudi kasampurnan. Manusia mencurahkan seluruh eksistensinya, baik jasmani maupun rohani, untuk mencapai tujuan itu. Usaha tersebut merupakan suatu kesatuan, suatu kebulatan. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak didapatkan pembedaan bidang Metafisika-Epistemologi-Etika, yang masing-masing berdiri sendiri. Ketiga bidang ini hanya merupakan segi tak terpisahkan dalam kesatuan gerak usaha manusia menuju kesempurnaan. Semua hasil pemikiran, pengalaman dan penghayatan manusia dalam gerak perjalanannya menuju kesempurnaan merupakan pola tetap Filsafat Jawa sepanjang sejarah.
Ciptoprawiro (1986:14) lebih lanjut menyatakan sebagai bukti bahwa filsafat Jawa ada, penelitian dalam kesusasteraan Jawa belumlah jauh benar, namun cukup jauh untuk menjadi dasar bahwa filsafat Jawa ada. Malahan kita tidak perlu mencari dalam kesusasteraan untuk memperoleh peikiran filsafat. Sekedar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam bangsa Jawa, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Wrekudara dalam mencari air hidup untuk memperoleh wirid ilmu sejati, merupakan suatu petunjuk betapa usaha ke arah pemikiran filsafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa. Maka, bagi filsafat Jawa, manusia adalah: manusia–dalam–hubungan, demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa
Ciptoprawiro (1986:14) lebih lanjut menyatakan sebagai bukti bahwa filsafat Jawa ada, penelitian dalam kesusasteraan Jawa belumlah jauh benar, namun cukup jauh untuk menjadi dasar bahwa filsafat Jawa ada. Malahan kita tidak perlu mencari dalam kesusasteraan untuk memperoleh peikiran filsafat. Sekedar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam bangsa Jawa, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Wrekudara dalam mencari air hidup untuk memperoleh wirid ilmu sejati, merupakan suatu petunjuk betapa usaha ke arah pemikiran filsafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa. Maka, bagi filsafat Jawa, manusia adalah: manusia–dalam–hubungan, demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa
Komentar
Posting Komentar