Langsung ke konten utama

dasar dasar ILMU

Pada dasarnya kata ilmu sudah sering kita dengar dalam kehidupan kita. Namun, tanpa kita sadari banyak di antara kita yang belum paham dengan makna ilmu itu sendiri. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Depdikbud 1988), ilmu mempunyai dua pengertian, yaitu:
  1. Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.
  2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya.
Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang segala persoalan baik dunia maupun akhirat yang bersifat sistematis dan mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Aristoteles ilmu berdasarkan tujuannya, dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu :
  1. Ilmu – ilmu teoritis yang penyelidikannya bertujuan memperoleh pengetahuan tentang kenyataan.
  2. Ilmu – ilmu praktis atau produktif yang penyelidikannya bertujuan menjelaskan perbuatan yang berdasarkan pada pengetahuan.
Aristoteles mencoba memperjelas pengklarifikasian ilmu berdasarkan tujuan yang lebih rinci, yaitu bahwa ilmu teoritis lebih mengedepankan fakta di masyarakat, sedangkan ilmu praktis mengedepankan pengetahuan.

KARAKTERISTIK ILMU
MenurutRandall dan Buchker(1942) mengemukakan beberapa ciri umum ilmu diantaranya :
  1. Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.
  2. Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidiki adalah manusia.
  3. Ilmu bersifat obyektif, artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.
Menurut Ernest van den Haag(Harsojo, 1977), mengemukakan ciri-ciri ilmu, yaitu:
  1. Bersifat rasional, karena hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal (rasio).
  2. Bersifat empiris, karena ilmu diperoleh dari dan sekitar pengalaman oleh panca indera.
  3. Bersifat umum, hasil ilmu dapat dipergunakan oleh manusia tanpa terkecuali.
  4. Bersifat akumulatif, hasil ilmu dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian selanjutnya.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU
  1. 1.      Perbedaan Filsafat dengan ilmu
Ilmu bersifat analisis dan hanya menggarap salah satu pengetahuan sebagai objek formalnya. Filsafat bersifat pengetahuan sinopsis artinya melihat segala sesuatu dengan menekankan secara keseluruhan, karena keseluruhan memiliki sifat tersendiri yang tidak ada pada bagian – bagiannya.
Ilmu bersifat deskriptif  tentang objeknya agar dapat menemukan fakta – fakta, netral dalam arti tidak memihak pada etnik tertentu. Filsafat tidak hanya menggambarkan sesuatu, melainkan membantu manusia untuk mengambil putusan – putusan tentang tujuan, nilai –nilai, dari tentang apa –apa yang harus diperbuat manusia. Filsafat tidak netral, karena faktor – faktor subjektif memegang peranan yang penting dalam berfilsafat.
Ilmu mengawali kerjanya dengan bertolak dari suatu asumsi yang tidak perlu diuji, sudah diakui dan diyakini kebenarannya. Filsafat bisa merenungkan kembali asumsi –asumsi yang telah ada untuk dikaji ulang tentang kebenaran asumsi.
Ilmu menggunakan eksperimentasi terkontrol sebagai metode yang khas. Verifikasi terhadap teori dilakukan dengan jalan menguji dalam praktik berdasarkan metode –metode ilmu yang empiris. Selain menghasilkan suatu konsep atau teori, filsafat juga menggunakan hasil – hasil ilmu, dilakukan dengan menggunakan akal pikiran yang didasarkan pada semua pengalaman insani,sehingga dengan demikian filsafat dapat menelaah yang tidak dicarikan penyelesaiannya oleh ilmu.
  1. 2.      Persamaan Filsafat dengan Ilmu
Filsafat dan ilmu, keduanya menggunakan metode berpikir reflektif ( refflectife thinking ) dalam menghadapi fakta-fakta dunia dan hidup. Filsafat dan  ilmu.
Ilmu membantu filsafat dalam mengembangkan sejumlah bahan- bahan deskriptif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat. Ilmu mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah
Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan beraneka macam ilmu dan yang berbeda serta menyusun bahan-bahan tersebut kedalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia dan menyeluruh dan terpadu.

RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
Ruang lingkup filsafat ilmu mencakup tiga aspek tinjauan, yaitu Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.
  1. 1.      Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat ilmu tentang apa dan bagai­mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing‑masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
  2. 2.      Epistemologi ilmumeliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand),akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model‑model epistemologik seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seperti teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
  3. 3.      Aksiologi llmumeliputi nilal‑nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik‑material. Lebih dari itu nilai‑nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
  1. 1.      Zaman Pra Yunani Kuno (Zaman Batu)
Pada abad VI SM Yunani muncul melahirkan filsafat ilmu dan mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Mulai saat itu orang mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta. Segala hal didasarkan pada rasio mereka yang tidak dapat diyakini kebenarannya. Dari sinilah selanjutnya filsafat ilmu dilahirkan.
  1. 2.      Zaman yunani kuno
    1. Zaman keemasan Yunani
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat ilmu, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu, karena Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi.
Dari ide – ide dan pendapat yang disampaikan akan memunculkan hasil berupa kesimpulan tentang suatu masalah dan cara – cara penyelesaiannya.
  1. Masa Helinistis Romawi
Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu sebagai berikut:
  • Stoisisme. Menurut paham ini jagad raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos yang berarti ilmu. Oleh karena itu segala kejadian harus berdasarkan ketetapan yang tidak dapat dihindari.
  • Epikurisme. Paham ini menyatakan bahwa segalanya yang ada di dunia ini terdiri dari atom-atom.
  • Skepisisme. Pada masa ini, mereka berfikir bahwa bidang teoritis atau akal manusia tidak sanggup mencapai kebenaran.
  • Eklektisisme. Paham ini merupakan suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat ilmu dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
  • Neoplatoisme, yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat ilmu plato.
  1. 3.      Zaman Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan terdapat beberapa tokoh filsafat seperti Plotinus yang mengajukan teori emanasi, Augustinus yang mempunyai ajaran khas, Anselmus yang mengeluarkan istilah credo ut intelligam ( yang dianggap merupakan ciri utama fisafat abad pertengahan ), dan Aquinas yang terkenal dengan 5 dalil tentang adanya Tuhan. Filsafat pada abad pertengahan ini mengalami 2 periode, yaitu:
  1. Periode Patriktis. Pada masa ini mengalami 2 tahap:
  • Permulaan agama Kristen
  • Filsafat ilmu Augustinus; yang terkenal pada masa Patriktis
  1. Periode skolastik; menjadi 3 tahap yakni:
  • Periode awal, ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat ilmu.
  • Periode puncak, ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat ilmu arab dan yahudi.
  • Periode akhir, ditandai dengan pemikiran kefilsafatan ilmuan yang berkembang kearah nominalisme.
  1. 4.       Zaman Renaissance
Ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Illahi, oleh karena itu disebut zaman renaissance yang berarti terlahir kembali.
  1. 5.      Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman renaissance.
  1. 6.       Zaman Kontemporer (Abad XX Dan Seterusnya)
Zaman ini sangat dipengaruhi oleh fisikawan termashur yaitu Albert Einstein yang percaya akan kekekalan materi. Dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan teknologi-teknologi canggih yang terus berkembang hingga sekarang.

BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT ILMU
Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat ilmu yang melandasinya. Dari berbagai filsafat ilmu yang ada, terdapat tiga aliran paham yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang secara kebetulan ketiganya lahir pada jaman abad pencerahan (renaissance) menjelang zaman modern.
  1. 1.      Nativisme atau Naturalisme, dengan tokohnya antara lain. J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniah yang dapat berkembang secara alami. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.
  2. 2.      Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.
  3. 3.      Konvergensionisme atau Interaksionisme, dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan sebelumnya. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.


KESIMPULAN
Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimanana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dan eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat. Sedangkan filsafat ilmu sendiri merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat , asumsi, dan implikasi dari ilmu,yang termasuk didalamnyaa antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistimologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah  seperti : apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejarah perkembangan ilmu bermula dari zaman batu. Pada masa itu ilmu hanya sebatas rasa ingin tahu mengenai alam sekitarnya. Namun periodisasi ilmu pengetahuan secara teoris selalu mengacu pada peradaban Yunani. Zanman Yunani merupakan zaman filsafat, karena pada zaman ini para filsuf menggunakan sifat tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap. Dan di zaman ini banyak bermunculan filsuf terkenal seperti Socrates, Plato dan Aristoteles  yang menjadi acuan bagi para filsuf dunia pada masa itu.

 sholihul hadi MPd

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Kairo Sowan ke Mbah Maimun Zubaer, Ulama Nusantara

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...