Langsung ke konten utama

wawasan

Sembilan pasal pertama kitab Amsal tidaklah mengikuti format yang sama dengan sisa kitab tersebut (pepatah; sanjak). Pasal-pasal pembuka ini adalah nasihat seorang ayah kepada putranya. Sang ayah memberitahu putranya tentang betapa bermanfaatnya hikmat dan betapa hikmat itu dapat membuat hidup lebih menyenangkan dan memuaskan. Hikmat dan kebodohan diumpamakan seperti dua orang perempuan yang mengundang sang putra untuk memburunya.

Mengapa nasihat ini penting? Sudah jelas hikmat itu lebih baik daripada kebodohan. Untuk apa bicara panjang lebar menasihati sang putra akan perlunya ia memburu hikmat?

Jawabannya bisa dilihat dari pengalaman kita sehari-hari. Memilih kebodohan itu lebih mudah, lebih alami. Membaca pasal 10-31, kita tahu apa pilihan yang lebih baik, tetapi kebodohan itu jauh lebih mudah dipilih—kecenderungan bawaan kita sejak lahir. Entah berupa kata-kata yang kasar, perbuatan yang egois atau yang memuaskan hawa nafsu semata, kebodohan itu selalu siap merangkul kita. Itulah sebabnya sang ayah menghabiskan waktu demikian banyak untuk mendorong putranya memburu hikmat.

Hikmat tidak hanya dibutuhkan untuk keputusan-keputusan besar. Kita juga membutuhkan hikmat dalam setiap tindakan yang kita pilih dan setiap kata yang kita ucapkan.

Bagaimana Anda dapat memburu hikmat hari ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...

kursus berperkara sdviokas