Langsung ke konten utama

daud

Mazmur 142 dimulai dengan keterangan: “Nyanyian pengajaran Daud ketika ia ada di dalam gua. Suatu doa.” Namun, mazmur ini juga bisa kita sebut sebagai “seruan Daud” Gambaran puitis yang dirangkai dalam liriknya terasa begitu nyata karena keluar dari pengalaman pribadi Daud. Dua kali ia melarikan diri ke gua karena ia hendak dibunuh. Mungkin hanya segelintir orang yang punya pengalaman seperti Daud, tetapi mungkin hampir semua orang pernah merasakan ada dalam gua kesepian dan keputusasaan yang dilukiskan Daud dalam mazmur ini. Kita tahu bagaimana rasanya ingin “berseru-seru” (ay.1) dan “mencurahkan keluhan” (ay.2), seperti yang ditulis sang pemazmur.

Semangatnya lemah lesu dan orang memasang “jerat” terhadapnya (ay.3), ia merasa tidak ada seorangpun yang menghiraukannya (ay.4). Kesulitannya membuat Daud merasa seperti berada dalam “penjara” (ay.8).

Namun, Daud tahu bahwa ia berseru kepada Pribadi yang dapat diandalkan. Ia menantikan tiba saatnya orang-orang benar akan mengelilinginya” (ay.7). Tidak selamanya ia akan putus asa sendirian.

Apakah hari ini Anda merasa sedang terpenjara dalam gua serupa? Cobalah menuangkan pikiran-pikiran Anda di atas kertas dengan sejujur-jujurnya, dan bawalah semua itu kepada Allah. Bagaimana kejujuran itu dapat mengubah doa-doa Anda?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...

kursus berperkara sdviokas