Berdasarkan
paparan dari Sunadi (2013) proses penguatan identitas pada masyarakat samin
dilakukan melalui proses imitasi dan identifikasi di lingkungan keluarga
seperti peniruan seorang anak kepada orang tuanya baik dari peniruan tingkah
laku yang dilakukan oleh orang tuanya, peniruan cara berpakaian, mata
pencaharian, adat pernikahan, maupun peniruan dari segi bahasa dan ajaran
saminisme. Selain itu, para orang tua di komunitas samin yang mempunyai
keinginan identik atau sama dengan leluhurnya dalam praktik kehidupan
sehari-hari mereka dan penguatan identitas melalui agama yakni agama Adam yang
berfungsi sebagai perekat sosial atau legitimasi sosial.
Komunitas
samin merupakan potret
masyarakat adat yang amat kuat dalam memegang prinsip budaya adiluhung dan
berperilaku harmonis dengan alam (mamayu
hayuning bawana).
Pendidikan yang disuguhkan oleh komunitas Samin
merupakan kearifan lokal. Walaupun
dianggap nyeleneh dan sebagainya, tatanan kehidupan masyarakat Samin amat
sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang ada di masyarakatnya. Seiring dengan peningkatan teknologi
dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern serta pengaruh globalisasi, warisan budaya dan
nilai-nilai tradisional masyarakat adat, khususnya
masyarakat samin menghadapi
tantangan terhadap eksistensinya. Hal ini perlu dicermati karena warisan budaya dan nilai-nilai
tradisional tersebut mengandung banyak kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kondisi
saat ini, dan seharusnya dilestarikan, diadaptasi atau bahkan dikembangkan lebih jauh.
DAFTAR PUSTAKA
Berger,
Peter L dan Thomas Luckman. 1990. Tafsir
Sosial Atas Kenyataan. Terjemahan Hasan Basari. Jakarta: LP3S.
Djoewisno. 1988. Potret Kehidupan Masyarakat Baduy.
Jakarta: Khas Studio.
Haji,
Muhammad Nur. 2014. Perkawinan Adat
Masyarakat Samin di Dusun Bombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten
Pati (Perbandingan Hukum Adat Samin dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan) (Skripsi) UIN Yogyakarta: Yogyakarta.
Mumfangati,
Titi dkk. 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan
Masyarakat Samin Kabupaten Blora
Jawa Tengah.
Yogyakarta: Penerbit Jarahnitra.
Purwasito, Andrik. 2003. Agama
Tradisional: Potret Kehidupan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger.
Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.
Sastroatmodjo,
Soerjanto. 2003. Masyarakat Samin.
Yogyakarta: Narasi.
Spence,
Edward H. (2011). Information, knowledge and wisdom: groundwork for the
normative evaluation of digital information and its relation to the good life. Journal of Ethics Inf Technol. Vol.
13:261–275 DOI 10.1007/s10676-011-9265-7.
Sunadi,
Ahmad. 2013. Interaksi Sosial Masyarakat
Samin di Tengah Modernisasi (Studi di Desa Beturejo Kecamatan Sukolilo
Kabupaten Pati) (Skripsi) UIN Yogyakarta: Yogyakarta.
Suyami.
2007. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat
Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yogyakarta: Kantor Pariwisata dan
Kebudayaan Kabupaten Blora.
Wasino.
(2013). Indonesia: From Pluralism to Multiculturalism. Journal of Paramita. Vol.
23. (2):148-155.
http://www.eprints.walisongo.ac.id/514/4/082111039_Bab3.pdf
(diunduh tanggal 2 November 2014
pukul 21.00).
http://oase.kompas.com
(diunduh tanggal 2 November 2014 pukul
21.06).
http://id.com/2011/10/ajaran-kependidikan-samin.htm
(diunduh tanggal 6 Mei 2015 pukul 07.50).
http://www.academia.edu/3620238/Pendidikan_Karakter_Model_Samin_Sukolilo
(diunduh tanggal 8 Mei 2015 pukul 10.00).
http://yudiyahman.blogspot.com/2013/04/makalah-kearifan-budaya-lokal-cerminan.html
(diunduh tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.00).
Komentar
Posting Komentar