Langsung ke konten utama

konsep pendidikan Samen

Sedulur sikep merupakan penanda pendidikan moral (http://id.com/2011/10/ajaran-kependidikan-samin.htm diunduh tanggal 6 Mei 2015 pukul 07.50). Kesederhanaan dan kesahajaan masyarakat Samin patut dijadikan teladan karena perilaku sosialnya sangat tinggi berupa kejujuran, ketidakangkuhan, dibandingkan dengan sebagian orang yang berpendidikan tinggi, pengalaman bertumpuk akan tetapi tidak jujur, dan arogan. Artinya, masyarakat Samin menampilkan sosok masyarakat yang tetap kokoh mempertahan tradisi kearifan lokal (local wisdom) yang kemudian bisa dijadikan guru kehidupan untuk mendiagnosis pola pikir masyarakat yang terus mengarah pada materialis, individualis, life style kebarat-baratan, dan konsumtif atau glamor. Masyarakat modern mengukur tingkatan kehidupan dinilai dari kemapanan ekonomi, sedangkan masyarakat samin mengukur kebahagiaan jika tercipta interaksi dengan lingkungannya penuh kerukunan, kenyamanan, dan meninggalkan konflik.
Kata kunci yang terekam dalam prinsip ajaran hidup dan prinsip pantangan hidup masyarakat Samin dengan ungkapan aja pingin kondang, aja pamer, urip sak madya. Ungkapan tersebut bertolak-belakang dengan prinsip modern yakni brain, beautiful and behavior. Pelajaran lain yang patut kita panuti, adalah ajaran dasar dalam berprinsip diri masyarakat Samin meliputi kudu weruh te-e dewe, lugu, milgi, dan rukun. Seperti dalam konsep kudu weruh te-e dewe, yang berarti setiap orang harus memahami barang yang milikinya dan pantang bagi memanfaatkan barang orang lain. Dapat diambil makna bahwa masyarakat Samin masih menjunjung tinggi perilaku sosialnya sampai sekarang dengan hidup bersahaja meskipun pengaruh modernisasi mengelilingi kehidupan mereka.
Interaksi sosial antara komunitas Samin dengan masyarakat sekitar berupa kerjasama, akomodasi, dan asimilasi. Interaksi sosial tersebut dipengaruhi oleh situasi sosial, kekuasaan kelompok, tujuan pribadi, kedudukan dan kondisi individu serta penafsiran situasi. Ada banyak nilai yang patut dipelajari oleh generasi berikutnya guna mempertahankan atau melestarikan nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi masyarakat Samin. Bukan hanya hubungan sosial antara sesama Sedulur Sikep yang positif, namun pandangan masyarakat Samin/Sedulur Sikep terhadap lingkungan juga sangat positif. Mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini selaras dengan pola pikiran mereka yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya.
Sedulur Sikep mempunyai ajaran-ajaran moralitas yang patut dicontoh, antara lain:
1)      Sedulur Sikep sendiri bermakna masyarakat berbudi pekerti baik dan jujur. Pendidikan yang terdapat di dalam masyarakat Samin mengarahkan anak didiknya untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti baik, diantaranya saling membantu sesama.
2)      Samin/Sedulur Sikep mengajarkan kepada anak-anaknya moral terhadap alam. Alam merupakan tanah airnya yang mereka percaya akan menghidupi mereka selama mereka menjaganya. Cinta tanah air bagi masyarakat Samin adalah dengan menjaga kelestarian alam sekitar, saling menghargai ciptaan Tuhan, tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dan memanfaatkan alam secara secukupnya. Itulah yang diajarkan oleh kaum Samin terhadap anak-anaknya.
3)      Orang Samin/Sedulur Sikep biasanya ditandai dengan keprimitifannya, jarang bergaul dengan dunia luar meskipun sekarang sudah terbuka dengan masyarakat luar. Dibalik keprimitifannya itu, Sedulur Sikep  memiliki prinsip filosofi yang tinggi. Nilai kesosialan, gotong royong dan tepo seliro dijunjung tinggi. Wong Samin yang dianggap sebagai kaum paling bawah ini, menempati nilai tertinggi dalam hubungan sosialnya.
Ajaran Samin/Sedulur Sikep lebih mengedepankan aspek aktualisasi pendidikan daripada kognisi (pengetahuan) semata. Prinsip menghargai sesama yang mereka junjung belum tentu dapat dicontoh oleh masyarakat di sekitarnya. Konsep aktualisasi pendidikan inilah yang melahirkan para penerus berbudi luhur. Karena kekhasan manusia terletak pada adanya perasaan akal, hati nurani dan kemampuan beriman pada dirinya, maka pendidikan atau humanisasi haruslah menyentuh segi-segi yang khas pada manusia itu. Orang Samin jauh lebih mengerti bagaimana nguwongke wong liyo (menghormati orang lain). Ajaran samin yang diajarkan oleh para leluhur mereka memanglah sarat akan nilai-nilai kearifan lokal. Meskipun, pada dasarnya masyarakat samin jika dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya tidaklah jauh berbeda.
Nilai-nilai luhur dalam ajaran samin ternyata mampu meredam perilaku anggota masyarakat untuk tidak berlaku secara semena-mena. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat samin sesungguhnya mengedepankan keseimbangan antara hak dan kewajiban, penghormatan atas orang lain, dan usaha yang sungguh-sungguh. Sebagimana yang dipaparkan oleh Edward H. Spence (2011) konsep kearifan dapat dipahami sebagai jenis pengetahuan serta kebajikan, yang dapat memungkinkan seseorang untuk mengetahui bahwa pada prinsipnya apa saja kehidupan yang baik dan bagaimana cara agar berhasil menerapkan pengetahuan tersebut untuk dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai luhur tersebut seyogyanya patut dicontoh dan dipelajari sebagai fondasi bagi bangsa Indonesia yang multikultural untuk senantiasa dapat hidup rukun, menjaga lingkungan alam sekitar, dan mempertahankan kearifan lokal yang ada meskipun berada dalam pengaruh perkembangan jaman. Nilai-nilai luhur ajaran samin dapat diajarkan oleh keluarga maupun guru di sekolah agar peserta didik sebagai generasi muda memahami nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di lingkungannya, senantiasa menerapkan perilaku yang bermoral, dan mampu mempertahankan jati diri atau identitasnya sebagai suatu komunitas yang masih memegang teguh nilai ajaran kearifan lokalnya dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga, nilai-nilai yang tersirat dalam ajaran samin hendaknya dapat dijadikan pijakan atau panutan, khususnya bagi generasi muda bangsa sebagai prinsip dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari.
  1. Identitas Masyarakat Samin di Tengah Modernisasi
Adat istiadat, tata nilai dan budaya mengatur beberapa aspek kehidupan manusia, seperti hubungan sosial kemasyarakatan, ritual peribadatan, kepercayaan, mitos-mitos dan sanksi adat yang berlaku di lingkungan masyarakat adat yang ada. Keanekaragaman budaya daerah tersebut merupakan potensi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra budaya tersendiri pada masing-masing daerah, serta merupakan bagian penting bagi pembentukan citra dan identitas budaya suatu daerah (http://yudiyahman.blogspot.com/2013/04/makalah-kearifan-budaya-lokal-cerminan.html diunduh tanggal 1 Juni 2015 pukul 11.00). Wong samin atau wong sikep masa kini tumbuh berbarengan dengan modernisasi. Meksipun kehidupan mereka sekarang terpengaruh dari perkembangan jaman, akan tetapi komunitas Samin masih memegang dan melaksanakan ajaran samin. Bagi orang samin yang penting dalam hidup ini adalah tabiatnya. Bagi mereka, manusia itu sama saja, sama hidup, dan tidak berbeda dengan lainnya. Yang membedakan hanyalah perjalanan hidup, perbuatan atau pekertinya. Perbuatan manusia hanya ada dua, yaitu baik atau buruk, jadi orang bebas memilih satu diantara dua perbuatan itu. Manusia hidup yang penting bukan lahiriahnya, bukan kata-kata muluk melainkan isi hati dan perbuatan nyata. Inti ajaran samin yang masih dipegang sampai sekarang adalah kejujuran. Prinsip kejujuran itulah yang menjadi agama bagi mereka. Apa yang mereka bicarakan adalah suara hati, tindakan yang dilakukan adalah apa yang mereka yakini. Kejujuran menjadi salah satu landasan penopang kehidupan sosial mereka sampai sekarang.
Ajaran samin menjadi identitas bagi mereka yang menunjukkan karakter yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga, prinsip hidup yang masih dipertahankan dan dijalankan yang membedakannya dengan masyarakat pada umumnya. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudnya, ia dipelihara, dimodifikasi, atau malahan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Sebaliknya, identitas-identitas yang dihasilkan oleh interaksi antar organisme, kesadaran individu, dan kesadaran struktur sosial bereaksi terhadap struktur sosial yang sudah diberikan, memeliharanya, memodifikasinya, atau malah membentuknya kembali. Masyarakat mempunyai sejarah dan di dalam perjalanan sejarah itu muncul identitas-identitas khusus, tetapi sejarah-sejarah itu dibuat oleh manusia dengan identitas-identitas tertentu (Berger dan Luckman, 1990:248).
Struktur-struktur sosial historis tertentu melahirkan tipe-tipe identitas yang bisa dikenali dalam kasus-kasus individual. Seorang eksekutif mempunyai identitas berbeda dengan seorang gelandangan, dan seterusnya (Berger dan Luckman, 1990:248). Orientasi dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari tergantung pada tipifikasi-tipifikasi seperti itu. Artinya, tipe-tipe identitas sosial bisa diamati dalam kehidupan sehari-hari dan bahwa pernyataan-pernyataan seperti yang telah dikemukakan bisa diverifikasi atau disangkal oleh orang-orang biasa dengan akan sehat (Berger dan Luckman, 1990:249). Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Sebaliknya tipe-tipe identitas merupakan produk-produk sosial semata-mata, unsur-unsur yang relatif stabil dari kenyataan sosial obyektif. Dengan demikian, tipe-tipe identitas itu merupakan pokok dari suatu bentuk kegiatan berteori dalam tiap masyarakat, sekalipun tipe-tipe itu stabil dan pembentukan identitas-identitas individu relatif tidak menimbulkan masalah.
Berger dengan tegas menyatakan walaupun sekelompok orang hidup dalam suatu negara yang terdiri lebih dari satu suku bangsa, bisa saja di dalamnya juga memiliki identitas-identitas lain yang menyatakan dirinya bukan sebagai bangsa dari negara tersebut namun dari suatu komunitas. Identitas dikatakan Berger ditentukan oleh struktur sosial yang ada. Sebagaimana yang dituliskan oleh Wasino (2013) setiap masyarakat memiliki budaya yang digunakan sebagai pedoman perilaku. Budaya didirikan oleh dukungan kelompok, karena perbedaan asal mereka, konsepsi budaya dan pandangan yang berbeda. Ada beberapa kelompok pendukung budaya, yaitu ras, agama, kelompok etnis, jenis kelamin, pangkat sosial, kekayaan dan tingkat pendidikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...

kursus berperkara sdviokas