Karya S Teddy D, berjudul “Monolog”, juga menarik untuk dilihat lebih jauh
dalam kaitannya sebagai sebuah tafsir atas karya Ayu Utami, “Kepergian”. Dalam
lukisan Teddy, secara sepintas kita bisa melihat satu bentuk wajah non realis
yang menjadi imaji dominan dalam bidang kanvas. Tetapi, jika dilihat lebih
saksama, maka kita bisa menemukan bahwa dalam salah satu mata dalam wajah
tersebut, terbentuk sebuah wajah lain yang hampir serupa. Dalam cerpen Ayu,
terpapar sebuah monolog tentang ingatan masa kecil seorang tokoh bernama
Agneci, yang memantul pada beberapa proyeksi tentang Agneci dewasa.
Pada seluruh karya yang terpajang di Galeri Langgeng hingga tanggal 28
September tersebut, saya kira kita bisa melihat bagaimana sebuah kisah bisa
tidak berhenti di tangan seorang pengarang. Begitu dilemparkan ke publik, kisah
itu menuai tafsir, membawa fantasi dan cerita berlari lebih jauh dari yang
barangkali dapat dibayangkan oleh pengarangnya. Pada karya-karya ini, kita
seperti menemukan lanjutan kisah, atau sebuah sisi lain dari kisah yang tak
sempat dimasuki oleh pengarang, sehingga sebagai penonton, pada titik pertemuan
karya yang menarik, kita bisa melihat labirin tafsir yang inspiratif. Kita
seperti dibawa bertualang pada sebuah kisah yang baru. Episode yang baru.
Pada pengantar katalog, dalam sebuah teks yang tak tercantum nama penulisnya,
saya menemukan sebuah simpul gagasan yang lain tentang usaha untuk
mempertemukan sastra dan senirupa ini: bagaimana karya-karya visual bisa
memberikan ilustrasi pada apa yang disampaikan oleh sebuah teks. Saya kira,
penjelasan tersebut, meskipun nyatanya memang benar, rasanya tidak cukup
memadai untuk melihat keterkaitan antara keduanya. Sebagaimana yang telah saya sebutkan
dalam awalan tulisan ini, melihat dua medium yang berbeda bertemu, yang penting
untuk digarisbawahi adalah terjadinya sebuah transformasi bahasa. Proses
membaca dan menelusuri teks, proses saling tarik antara esensi-esensi gagasan,
proses menemukan sebuah metafor, proses menemukan bentuk visual yang paling
tepat, adalah sebuah kerja penafsiran yang panjang atas teks. Ilustrasi sering
kali dimampatkan dalam definisinya yang tak bisa merangkum semua kerja panjang
itu, karena ia acapkali disebut hanya sebagai “pemberi gambaran”. Ia seperti
hanya mengisi ruang yang kosong, tetapi tidak menciptakan ruang itu sendiri.
Upaya “mendesain” sebuah pertemuan macam ini saya kira menjadi salah satu
metode untuk memperkaya keduanya, pengarang dan seniman rupa, untuk melihat
dengan kacamata yang lain, mencari referensi yang lain, bertemu dengan hal-hal
yang berada di luar aras utama.
Di sisi yang lain, saya kira, dalam senirupa, sepintas bisa kita lihat
kecenderungan seniman untuk menempatkan teks menjadi sebuah unsur yang visual
yang penting. Di luar menimbang keharmonisannya dengan bentuk, saya kira yang
menarik adalah kesadaran di antara para seniman itu untuk berkomunikasi dengan
audiensnya dalam sebentuk ikon yang memiliki makna paling universal: tulisan.
Maka, dalam lukisan-lukisan kontemporer, kita bisa menemukan narasi yang secara
langsung terepresentasikan dalam bentuk teks. Titik-titik pertemuan macam ini
saya kira menunjukkan bagaimana para pelaku kesenian sesungguhnya selalu
berupaya untuk menautkan diri dan karyanya dengan dunia, dan tak cuma berdiri
dalam menara.
Alia Swastika
Penulis, sehari-harinya bekerja sebagai manajer artistik Rumah Seni Cemeti,
Yogyakarta--- di sadur
Ulang- Sholihul Hadi S Ag. LULUSAN IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA’96
Komentar
Posting Komentar