Sumanto Al Qurtuby
Setiap ada peristiwa atau kasus yang melibatkan perempuan, kenapa mereka yang selalu disalahkan dan dikambinghitamkan?
Coba lihat, kalau ada kasus pemerkosaan, perempuan yang dituduh bersalah: karena pakai pakaian seksilah, nggak berjilbab lah. Padahal, banyak sekali kasus-kasus kekerasan di "dunia Islam" seperti yang pernah saya tulis yang dilakukan para lelaki bejat atas perempuan berhijab dan berburqa atau berniqab. Jadi problemnya bukan pada "sehelai pakaian" perempuan tapi pada otak, pikiran, dan jiwa kaum lelaki yang sakit.
Coba lihat, kalau ada kasus pemerkosaan, perempuan yang dituduh bersalah: karena pakai pakaian seksilah, nggak berjilbab lah. Padahal, banyak sekali kasus-kasus kekerasan di "dunia Islam" seperti yang pernah saya tulis yang dilakukan para lelaki bejat atas perempuan berhijab dan berburqa atau berniqab. Jadi problemnya bukan pada "sehelai pakaian" perempuan tapi pada otak, pikiran, dan jiwa kaum lelaki yang sakit.
Persekusi
dalam 1 bulan ini berulang kali disebut diberbagai media baik televise,
radio, media cetak hingga media elektronik. Dan silahkan amati, hampir
semua korban persekusi adalah perempuan maupun anak-anak. Mengapa?
Karena kelompok intoleran yang melakukan persekusi hanya berani pada
wanita dan anak-anak. Mereka sama sekali tidak menyentuh selain
anak-anak dan perempuan.
Berdasar
data yang dikutip dari SAFENET (Southeast Asia Freedom of Expression
Network), dalam kurun 4 bulan atau sejak awal tahun sudah ada 59 korban.
Dan pada bulan Mei eskalasinya makin tinggi serta mengkhawatirkan.
Sasaran perempuan itu meski berpendidikan juga tidak ambil pusing,
maklum cara mereka keroyokan dan model intimidasi. Persekusi sendiri
menurut KBBI yakni bermakna pada pemburuan sewenang-wenang terhadap
seseorang atau sejumlah warga dengan disakiti, dipersusah atau ditumpas.
Pelaku
persekusi mayoritas adalah kelompok intoleran yang sama sekali tidak
bisa diajak dialog atau mau mendengar. Mereka cenderung mau menang
sendiri dan tidak melandaskan argumentasi yang jelas baik berdasar
undang-undang maupun agama. Jika jeli kita melihatnya persekusi
dilakukan oleh 2 kelompok yakni kelompok intoleran serta kelompok
bhineka. Mengapa kelompok bhineka ikut melakukan persekusi dan siapa
korbannya? Mereka ini murni masyarakat yang hatinya tersakiti oleh tokoh
atau orang yang terus menerus menebarkan kebencian. Kedua korbannya
yakni Fachri Hamzah dan Jonriah Ukur Ginting alias Jonru Ginting.
Seperti
kita tahu, Fachri Hamzah adalah Wakil Ketua DPR yang tidak mewakili
partai apapun (PKS sendiri tidak mengakui FH sebagai anggota fraksi
karena sudah dipecat) yang sering menebar permusuhan dalam setiap
statemennya. Selalu memojokkan pemerintah, membela kelompok yang
melakukan terror termasuk beberapa kali mempertanyakan terorisme, tidak
mengayomi sebagai wakil rakyat dan sebagainya. Sementara Jonru salah
satu medsos selebritas yang hampir mayoritas postingannya menyudutkan
pemerintah. Bisa diibaratkan Jonru merasa tinggal di negara yang tepat.
Bukan hanya itu, selalu mendiskreditkan NU, Ansor maupun gerakan
masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman.
Maka
ketika Fachri turun di Bandara Sam Ratulangi pada 14 Mei 2017 seluruh
sudut bandara dipenuhi masyarakat dan memaksa wakil rakyat itu kembali
ke Jakarta. Sementara Jonru diusir dari Pelabuhan Lorens Says pulau
Pemana Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur 26 Mei 2017. Kelompok
Bhinneka ini mengusir orang-orang yang memang menjadi symbol atau motor
dari kelompok intoleran. Lihat saja status-status permusuhan yang
diucapkan Fachri Hamzah di media massa maupun Jonru di Fanspage miliknya
menimbulkan permusuhan. Jangankan dengan pihak lain, Fachri dengan PKS
saja sudah tidak dianggap. Pun dengan Jonru yang menjelek-jelekkan sang
mentor menulisnya sendiri. Coba bandingkan persekusi yang dilakukan oleh
kelompok intoleran, korbannya wanita bahkan anak-anak dengan model
keroyokan bahkan intimidasi. Jangankan tokoh, mereka orang biasa yang
mungkin friendlistnya di sosmed hanya ratusan saja.
Sebut
saja ibu Indri Sorraya Zulkarnain, mereka tidak sekedar memaksa si ibu
ini untuk menandatangani surat pernyataan tapi massa yang berada
dilingkungan rumahnya mencapai 60 orang. Bukan hanya itu, perempuan
bertempat tinggal di Tangerang ini mendapat berbagai ancaman melalui
akun medsosnya. Padahal Sorraya hanya mengkritik pimpinan FPI Rizieq
Shihab yang sikapnya tidak bertanggungjawab atas kasus yang membelitnya.
Contoh lain, Nurul Indra yang warga Batam melakukan aksi menyalakan
seorang diri. Dia dibully habis-habisan, diancam, dituduh bernama
Deborah, dituduh non muslim bahkan mereka siap menggruduk ke rumahnya.
Namun Nurul tak bergeming, tetap pada pendiriannya.
Yang
paling parah tentu saja yang menimpa dokter Fiera Lovita dan Putra
Mario Alfian. Dokter Fiera meski sudah menandatangani surat pernyataan,
intimidasi diseputar rumahnya Solok Sumatera Barat hingga dini hari.
Sang Gubernur, Irwan Prayitno yang merupakan kader PKS membantah adanya
intimidasi dan masalah sudah selesai. Faktanya, dokter Fiera harus
diungsikan keluar Sumbar hingga diamankan di Jakarta. Padahal dokter
Fiera memiliki 2 anak kecil serta Muslim dan pelaku intimidasi juga
beragama yang sama. Kasus ini sedang dikembangkan dan Mabes Polri
bersikap tegas, mencopot Kapolres Solok karena tidak mampu melindungi
warga dari tindakan sewenang-wenang.
Dalam kasus-kasus perkosaan, kenapa perempuan yang sering, atau
bahkan selalu, disalahkan? Bukankah mestinya laki-laki bejat itu yang
harus dikutuk? Kenapa perempuan yang menjadi korban yang diolok-olok dan
bukannya laki-laki si pelaku kejahatan itu yang harusnya dikucilkan?
Kenapa sebagian masyarakat malah mencibir perempuan yang diperkosa,
bukan laki-laki pemerkosa?
Saya perhatikan misalnya sejumlah pihak, khususnya kaum Muslim "tengil" yang rabun wawasan dan pikun pengetahuan, menuding perempuan tak berjilbab sebagai akar dari pemerkosaan. Dalam logika konyol mereka, kalau perempuan “menutup aurat”, maka pemerkosaan tidak akan terjadi. Ini adalah pendapat ngawur yang tidak memiliki bukti dan reasoning yang memadai. Pemerkosaan dalam banyak hal bukan karena “tubuh yang telanjang” melainkan karena “otak yang kotor”. Ingat dosa bukan karena “daging yang kotor” akan tetapi karena otak, hati, dan ruh kita yang penuh noda. Dengan indah, Paul Evdokimov menulis: “Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit.”
Jika memang “sehelai pakaian” perempuan yang bernama jilbab, hijab, abaya, burqa, niqab, chador atau apapun namanya bisa menghindari perempuan dari kasus-kasus perkosaan, tentunya kejahatan kemanusiaan ini tidak akan terjadi di negara-negara yang mengatur ketat soal tata-busana perempuan. Tapi faktanya kasus-kasus perkosaan banyak terjadi di negara-negara berbasis Muslim seperti Pakistan, Afganistan, Mesir, Suriah, Sudan, Yordania, Saudi, dlsb, bukan hanya di negara-negara “non-Islam” saja.
Seperti telah dicatat oleh Revolutionary Association of the Women of Afghanistan (RAWA), salah satu lembaga perempuan berpengaruh di Afganistan, sepanjang kekuasaan rezim Islamis-ekstrimis Taliban sejak 1994 telah terjadi ribuan kasus perkosaan, termasuk perkosaan terhadap anak-anak.
Di Mesir, kasus perkosaan juga sangat tinggi yang menurut data dari Kementerian Dalam Negeri mencapai 20,000 kasus per tahun. Bahkan menurut sejumlah tokoh dan aktivis perempuan Mesir seperti Engy Ghoslan (pendiri Egyptian Center for Women’s Rights) atau Mona Eltahawy, kasus-kasus perkosaan di Mesir bisa mencapai 200,000 per tahun, 10 kali lipat dari data yang disajikan oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir. Pada waktu “Revolusi Mesir” 2011 lalu, juga telah terjadi ratusan kasus “perkosaan perempuan di ruang publik”. Pada tahun 2008, Egyptian Center for Women’s Rights mengadakan survei nasional tentang perkosaan dan pelecehan seksual, dan hasilnya sangat mengejutkan: lebih dari 83% perempuan di Mesir mengaku pernah mengalami pelecehan seksual. Bahkan data dari United Nations Entity for Gender Equality tahun 2013 menyebut lebih dari 90% perempuan di Mesir mengalami berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual. Karena tingginya kasus perkosaan ditambah dengan tak terhitungnya peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual ini, sejumlah tokoh di Mesir menyebut perkosaan sebagai “kanker sosial” dan hijab penutup aurat tidak mampu mencegah para lelaki bejat.
Bukan hanya Mesir dan Afganistan saja, di “negara-negara hijab” lain juga sama. Bukan rahasia lagi jika di “negara-negara konflik” seperti Irak dan Suriah telah terjadi ribuan kasus perkosaan atas perempuan berhijab (lagi-lagi, sialnya, termasuk anak-anak) yang dilakukan oleh para lelaki dan milisi Islamis-jihadis yang mengaku “menegakkan Islam” itu. Data tentang perkosaan di Irak maupun Suriah ini pernah ditulis dengan baik oleh Lauren Wolfe di The Atlantic dan juga dicatat oleh Euro Mediterranean Human Rights Network. Di Arab Saudi juga pernah terjadi kasus heboh “perkosaan massa” pada tahun 2006 dimana seorang perempuan Saudi diperkosa oleh tujuh laki-laki Saudi. Peristiwa heboh yang populer dengan sebutan “Kasus Perkosaan Qatif” ini berakhir pada hukuman cambuk dan penjara bagi pemerkosa.
Apa yang saya tulis ini hanyalah sekedar contoh kecil untuk menegaskan bahwa perkosaan dan pelecehan seksual bukan karena “tubuh perempuan yang telanjang” melainkan karena “otak laki-laki yang kotor-njetor.” Ditutup serapat apapun tubuh perempuan tetap saja akan diganggu oleh laki-laki yang berotak ngeres dan berjiwa kotor seperti got empang. Bukan aurat perempuan, melainkan sahwat bejat laki-laki yang menyebabkan perkosaan dan kekerasan seksual.
Jabal Dhahran, Arab Saudi
Saya perhatikan misalnya sejumlah pihak, khususnya kaum Muslim "tengil" yang rabun wawasan dan pikun pengetahuan, menuding perempuan tak berjilbab sebagai akar dari pemerkosaan. Dalam logika konyol mereka, kalau perempuan “menutup aurat”, maka pemerkosaan tidak akan terjadi. Ini adalah pendapat ngawur yang tidak memiliki bukti dan reasoning yang memadai. Pemerkosaan dalam banyak hal bukan karena “tubuh yang telanjang” melainkan karena “otak yang kotor”. Ingat dosa bukan karena “daging yang kotor” akan tetapi karena otak, hati, dan ruh kita yang penuh noda. Dengan indah, Paul Evdokimov menulis: “Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit.”
Jika memang “sehelai pakaian” perempuan yang bernama jilbab, hijab, abaya, burqa, niqab, chador atau apapun namanya bisa menghindari perempuan dari kasus-kasus perkosaan, tentunya kejahatan kemanusiaan ini tidak akan terjadi di negara-negara yang mengatur ketat soal tata-busana perempuan. Tapi faktanya kasus-kasus perkosaan banyak terjadi di negara-negara berbasis Muslim seperti Pakistan, Afganistan, Mesir, Suriah, Sudan, Yordania, Saudi, dlsb, bukan hanya di negara-negara “non-Islam” saja.
Seperti telah dicatat oleh Revolutionary Association of the Women of Afghanistan (RAWA), salah satu lembaga perempuan berpengaruh di Afganistan, sepanjang kekuasaan rezim Islamis-ekstrimis Taliban sejak 1994 telah terjadi ribuan kasus perkosaan, termasuk perkosaan terhadap anak-anak.
Di Mesir, kasus perkosaan juga sangat tinggi yang menurut data dari Kementerian Dalam Negeri mencapai 20,000 kasus per tahun. Bahkan menurut sejumlah tokoh dan aktivis perempuan Mesir seperti Engy Ghoslan (pendiri Egyptian Center for Women’s Rights) atau Mona Eltahawy, kasus-kasus perkosaan di Mesir bisa mencapai 200,000 per tahun, 10 kali lipat dari data yang disajikan oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir. Pada waktu “Revolusi Mesir” 2011 lalu, juga telah terjadi ratusan kasus “perkosaan perempuan di ruang publik”. Pada tahun 2008, Egyptian Center for Women’s Rights mengadakan survei nasional tentang perkosaan dan pelecehan seksual, dan hasilnya sangat mengejutkan: lebih dari 83% perempuan di Mesir mengaku pernah mengalami pelecehan seksual. Bahkan data dari United Nations Entity for Gender Equality tahun 2013 menyebut lebih dari 90% perempuan di Mesir mengalami berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual. Karena tingginya kasus perkosaan ditambah dengan tak terhitungnya peristiwa kekerasan dan pelecehan seksual ini, sejumlah tokoh di Mesir menyebut perkosaan sebagai “kanker sosial” dan hijab penutup aurat tidak mampu mencegah para lelaki bejat.
Bukan hanya Mesir dan Afganistan saja, di “negara-negara hijab” lain juga sama. Bukan rahasia lagi jika di “negara-negara konflik” seperti Irak dan Suriah telah terjadi ribuan kasus perkosaan atas perempuan berhijab (lagi-lagi, sialnya, termasuk anak-anak) yang dilakukan oleh para lelaki dan milisi Islamis-jihadis yang mengaku “menegakkan Islam” itu. Data tentang perkosaan di Irak maupun Suriah ini pernah ditulis dengan baik oleh Lauren Wolfe di The Atlantic dan juga dicatat oleh Euro Mediterranean Human Rights Network. Di Arab Saudi juga pernah terjadi kasus heboh “perkosaan massa” pada tahun 2006 dimana seorang perempuan Saudi diperkosa oleh tujuh laki-laki Saudi. Peristiwa heboh yang populer dengan sebutan “Kasus Perkosaan Qatif” ini berakhir pada hukuman cambuk dan penjara bagi pemerkosa.
Apa yang saya tulis ini hanyalah sekedar contoh kecil untuk menegaskan bahwa perkosaan dan pelecehan seksual bukan karena “tubuh perempuan yang telanjang” melainkan karena “otak laki-laki yang kotor-njetor.” Ditutup serapat apapun tubuh perempuan tetap saja akan diganggu oleh laki-laki yang berotak ngeres dan berjiwa kotor seperti got empang. Bukan aurat perempuan, melainkan sahwat bejat laki-laki yang menyebabkan perkosaan dan kekerasan seksual.
Jabal Dhahran, Arab Saudi
Untuk
kasus Putra Mario Alfian perlakuan kekerasan jelas terjadi dan bisa
disaksikan dalam video yang menyebar kemana-mana. Dua pelaku
penganiayaan terhadap bocah berusia 15 tahun itu sudah ditangkap polisi.
Mereka melakukan persekusi berawal dari status Mario yang memojokkan
pimpinan FPI. Padahal status Mario itu karena menjawab diskusi dengan
temannya dan status itu si screenshoot lalu disebarkan. Dikepung lebih
dari 40 orang, Mario diminta keluar rumah kemudian dipukul. Dibawa ke
sebuah tempat dan diintimidasi serta diminta membuat surat pernyataan.
Bukan hanya itu, ibunda Mario, janda beranak 6 dipecat dari tempatnya
bekerja. Mario sendiri diberhentikan dari sekolahnya. Di duga toko dan
tempat sekolah itu takut jadi korban gerudukan kelompok intoleran.
Dengan
demikian jelas, bahwa kelompok intoleran merupakan kelompok yang
hobinya keroyokan, tidak memakai ajaran Islam, suka memaksa, mau menang
sendiri, tidak memakai dialog dan lain sebagainya. Yang mereka lakukan
berbeda dengan yang dicontohkan oleh Barisan Ansor Serbaguna alias
Banser. Beberapa penghina ulama NU, diajak tabayyun ke kyai yang
bersangkutan untuk meminta maaf secara langsung. Berdialog, ngobrol,
makan-makan dan dinasehati. Lihat saja beberapa video yang dilakukan
Ansor. Tidak ada teriak-teriak, memaki, mengancam apalagi melakukan
tindak kekerasan. Ansor melakukan tabayun sesuai yang diajarkan oleh
Rasulullah karena memang tauladan mereka. Lantas kelompok intoleran itu
melakukan model tabayyun dengan mencaci maki, menggertak, menghina
hingga melakukan kekerasan itu adakah contoh yang dianut dalam Islam?
Tabayyun ajaran mana yang kau anut wahai kaum Intoleran?
Komentar
Posting Komentar