Lalu apa sih perbedaan mendasar dari bank konvensional dan bank syariah?
Dalam sejarah, krisis keuangan terjadi karena moneter. Disederhanakan, moneter adalah pasar uang. Bila kita meminjam ke bank konvensional, yang kita pinjam adalah uangnya. Misal, kita hendak membeli motor. Kita pinjam uang ke bank. Lalu kita yang membeli motornya. Uang ini yang berbunga seakan-akan diperdagangkan. Yang terjadi sebenarnya, kita bertransaksi moneter dengan bank. Cara ini membuat uang bisa berkembang lebih besar dari sektor riilnya.
Sementara itu, bank syariah tidak memperdagangkan uang. Kalau kita mau beli motor, bank yang akan membelikan kita motor. Kemudian motor itu akan dijual lagi ke kita dengan harga yang lebih tinggi yang disepakati bersama. Transaksinya riil. Hanya saja, model transaksi seperti ini malah membuat ada 2 transaksi yang mengakibatkan ada 2 PPN. Pajak yang dobel inilah salah satunya yang membuat pinjam di bank syariah lebih mahal. Untungnya, hal tersebut sudah dikomunikasikan ke pembuat kebijakan agar tak lagi dobel pajak.
Ekonomi syariah yang mementingkan keseimbangan riil dan moneter ini justru akan lebih kokoh, dan tidak mudah diterpa krisis, kecuali jika ada peperangan atau bencana alam.
Dalam buku Satanic Finance, A. Riawan Ramin mendefinisikan tiga pilar setan dalam perbankan adalah fiat money, fractional reserve requirement, dan interest. Ada sebuah ilustrasi yang kurang-lebihnya saya ingat dari buku tersebut yang menyindir proses perbankan saat ini.
Bayangkan sebuah bank mencetak uang sebanyak 1 juta. Bank menyaratkan adanya cadangan 10% sehingga uang yang dapat diedarkan 9 juta. Untuk mendapat uang, rakyat harus menukarkannya dengan emas. Ada rakyat yang punya emas, bisa menukarkan dengan uang 5 juta. Namun, yang tidak punya emas, tetap mendapat uang dengan status pinjaman dengan bunga 10% per tahun.
Satu tahun berlalu, sang peminjam harus mengembalikan uang 4,4 juta. Uang yang beredar 9 juta. Jika tidak terjadi perubahan kekayaan, maka 5 juta masih milik pihak pertama, sehingga ada kekurangan 400 ribu, yang membuat bank akan mencetak uang lagi. Jika ada perubahan, maka pihak pertama tinggal punya 4,6 juta, dan pihak kedua akan punya uang 4,4 juta.
Inilah yang dimaksud dengan ekonomi kapitalisme... salah satu pihak harus memiskinkan pihak lainnya sehingga pasti terjadi ketidakmerataan yang tinggi nantinya. Sementara bank akan mencetak uang dan meminjamkan terus-menerus sehingga uang di pasar bertambah. Jika riilnya tetap, yang terjadi sebenarnya adalah inflasi.
Yang jangan dilupakan juga adalah emas sebagai jaminan tadi. Emas sebagai jaminan tadi pada awalnya ekivalen dengan jumlah uang beredar. Lama-kelamaan uang beredar bertambah, emasnya tetap.
Ilustrasi ini sebenarnya menggambarkan sejarah uang di dunia. Dulu, dollar dijamin dengan emas. Lalu dibuatlah keputusan untuk tidak menjamin dollar dengan emas lagi. Sehingga uang yang ada saat ini sebenarnya tidak punya jaminan apa pun selain kepercayaan terhadap pemerintah dan pasar. Ketika kepercayaan itu hilang... terjadilah rush,dan krisis moneter pun terjadi.
Jangan Pura-pura Kaya
Pernah mendengar kalau 100 miliar dolar Zimbabwe hanya cukup untuk membeli 3 butir telur? Atau masih ingatkah zaman beli permen Rp100 dapat 8 dan sekarang Rp500 dapat 3 buah permen?
Itu adalah wajah inflasi. Uang kita bertambah, tapi harga juga bertambah. Kita bisa berpura-pura kaya karena penghasilan kita meningkat, tapi pasti kan pengeluaran kita juga meningkat?
Ekonomi syariah tidak seperti itu. Prinsipnya menjaga keseimbangan tadi sehingga bila 10 tahun lalu kita bisa membeli kambing dengan harga 1 dinar, maka 20 tahun mendatang, harga kambing juga masih 1 dinar. Asik, bukan?
Komentar
Posting Komentar