berbagi coretan kakak yang berdomisili di Condet, basis Nachrowi Ramli
. Beliau seorang profesional BUMN di sektor migas
Agak panjang. Yang sabar aja mbacanya
**
Kondisi sebenarnya:
Jakarta udah terlalu lama dijalankan dengan konspirasi birokrat+pengusaha yg melanggar prinsip2 dasar islam (kl mau bawa nama islam): anti Korupsi, keadilan, kesejahteraan, menindak pelanggaran hukum dll. Tidak ada satu gubernurpun yg berani menegakkan ke4nya secara bersamaan.
Di Jakarta banyak banget yang mengaku ustad bergaya hidup mewah dan nerapin standar ganda. Diantara mereka banyak banget yg trganggu dengan kebijakan Ahok (juga Jokowi)
Ini yg dilakukan Ahok:
1. Memaksa birokrat Jakarta bekerja, selama ini nampak cuma menyusahkan
2. Pengusaha hitam yg kongkalikong dipaksa tertib aturan.
3. Memberangus pemerasan tenaga kerja kontrak pemprov. Tadinya cuma dikasih 300rb perbulan sekarang smp 3 juta. Kontrak pemprov dki dengan vendor tenaga kerja dr dulu ya sudah 3 jt an tp menguap
sue PKI menjadi isu yang laku keras jelang Pilpres. Sebut saja menjelang Pilpres tahun 2014 yang lalu di mana Jokowi di serang dengan isu PKI. Kampanye hitam tentang Jokowi dan PKI mulai menghantam dirinya sejak berlaga dalam Pilpres. Tak tanggung-tanggung, di sebut-sebut ada ideologi komunis di belakang Jokowi. Saat itu, kubu lawan Jokowi yaitu pasangan capres -cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa mengkritik program Revolusi Mental Jokowi. Program Jokowi tersebut dinilai berawal dari paham komunis. Bahkan Fadli Zon, Sekretaris tim pemenangan Prabowo-Hatta kala itu mengatakan bahwa Revolusi Mental digunakan tokoh-tokoh berhaluan kiri untuk menghapus sesuatu yang berbau agama.
Mas Anise mengatakan, majunya dia sebagai calon gubernur DKI bukan atas keinginan dia, tetapi atas keinginan Prabowo Subianto dan PKS. Dengan kata lain, Mas Anise mau bilang bahwa sebetulnya ia bukan orang yang haus kekuasaan, ia sebenarnya tak punya ambisi menjadi gubernur DKI Jakarta, tetapi karena diminta oleh Gerindra dan PKS, maka ia terima. Padahal banyak calon dari PKS yang menangis akan keputusan ini
Saat menjadi juru kampanye Jokowi, Anise beberapa kali mengecam langkah politik Prabowo. Salah satu kritik keras Anise "Kita tahu siapa Prabowo karena sudah beriklan selama 6 tahun di televisi. Cara berpolitik dengan biaya luar biasa mahal, tidak membuat politik menjadi lebih sehat
Bahkan di dalam suatu kesempatan Pilpres 2014, Anise juga pernah mengingatkan rakyat Indonesia bahwa kubu Prabowo-Hatta diduga diusung oleh sejumlah partai politik yang dibekingi oleh mafia, seperti mafia migas (Petral), impor daging sapi (PKS), haji, pengadaan Alquran (PPP), dan lumpur Lapindo (Golkar).
Ada isu yang mengatakan bahwa Jokowi mencopot Anise karena dia mengendus ternyata Anise memanfaatkan jabatannya itu untuk menggalang kekuatan untuk Pilpres 2019. Apakah benar begitu? Hanya Anise dan Tuhan yang tahu.
Ada juga analisis yang mengatakan Anise dicopot dikarenakan tekanan politik, ini pun lemah, karena kekuatan politik manakah yang bisa menekan Jokowi, sedangkan keinginan PDIP agar menunjuk Budi Gunawan menjadi Kapolri saja ditolak Jokowi
Mas Anise sepertinya kecewa berat karena dicopot dari jabatannya. Seketika itu pulalah sikapnya berubah, jika pendukung Jokowi memiliki pakem "Jika ingin mencari kebenaran maka berdirilah dimana lawan PKS berada", maka Mas Anise sepertinya memilih berdiri disana. Iming-iming kekuasaan sudah membutakannya dari yang semula penentang dan pengkritik keras Prabowo, sekarang Mas Anise menjadi “anak buah” Prabowo, Konco si Zonk, dan "kader baru" Partai Gerindra
Genderang ludruk nya mulai ditabuh,..alih alih bukannya merangkul pemilih yang sedang mengambang karena kasus penistaan agama tapi mas anise malah ikut ikutan merobek-robek kain kebangsaan kita, bukannya mas anise ikut menyatukan umat yang terpecah pecah malah sebaliknya Mas Anise ikut menari di Genderang tersebut, butanya hati membuat Mas Anise tidak dapat melihat kesempatan emas untuk menyatukan mereka yang berserakan untuk tujuan yang lebih besar lagi
Dimana Mas Anise yang dulu ikut jihad menjaga tenun kebangsaan Indonesia tetapi sekarang Mas Anise bisu, buta dan tuli disaat ormas FPI merobek tenun kebangsaan kita, bahkan Mas Anise ikut menjadi cheerleader ormas tersebut hanya karena untuk Pilkada DKI,..OKOCOK Mas Anise,..Persatuan Indonesia lebih penting dari sekedar Gubernur DKI yang hanya 5 tahunan
Dimana Mas Anise sewaktu Prabowo mengeluarkan pernyataan “Siapa yang tidak mendukung Sandiaga Uno adalah antek asing!”. Demokrasi macam apa ini mas Anise ? Mengapa Mas Anise diam ?, tapi sebaliknya jika Mas Anise mengkritisi kebijakan Basuki Tjahaya Purnama mas Anise sungguh Jagonya Ayam dengan pilihan kosa kata yang santun tapi mengiris ulu hati, walaupun isinya telek belaka
Mas Anise sudah berlayar bertransformasi menjadi politikus pragmatis dan oportunis ? Sayangnya Mas Anise memilih Politikus minim karakter, Mas Anise sedang mabuk Pilkada rasa Pilpres, "karena rasa itu tidak pernah dia cicipi sewaktu pilpres 2014" ujar De Fatah
Selamat bergabung Mas Anise kedalam Genk 7 dosa Sosial Mahatma Gandhi
Nama Mas Anise dalam tulisan ini bukan Tokoh Anies Baswedan si Beghawan Indonesia yang dulu
tim sukses pemenangan Prabowo - Hatta Rajasa , Letjen Purn Suryo Wibowo pernah mengatakan kampanye pendukung Jokowi - Jusuf Kalla di Yogyakarta bertindak brutal mirip komunis. Sikap brutal tim pendukung Jokowi - JK tersebut dinilai cermin dari model kepemimpinan rezim preman. https://www.merdeka.com/politik/kubu-prabowo-mulai-serang-jokowi-dengan-...
Nah, 2 tahun menjelang Pilpres tahun 2019, isu PKI mulai di goreng kembali untuk menghantam dan mengoyang Jokowi.
Isu PKI memang isu yang seksi bagi kubu sebelah, karena ‘hantu’ PKI di anggap paling mudah untuk mengerakkan emosi rakyat Indonesia dan muaranya tidak lagi simpati bahkan membenci Jokowi. Rentetan isu PKI yang sempat mereda setelah kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu , kembali di sebarkan . Tidak hanya itu, isu Jokowi anti umat islam, pro China dan PKI, tukang hutang dll terus di hembuskan. Semuanya bertujuan satu yaitu Jokowi tidak akan terpilih pada Pilpres 2019 mendatang.Kejam dan licik bukan? Ya itulah politik yang kejam dan menguar aroma busuk , menghalalkan segara cara untuk meraih kemenangan .
Isu PKI yang dianggap seksi untuk dihembuskan tersebut, meluncur juga dari mulut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyouno yang menyamakan PDIP seperti PKI. Meskipun kemudian ia segera meminta maaf secara terbuka kepada PDIP, tetapi jejak pernyataannya tidak akan dilupakan begitu saja. Dalam permintaan maafnya, Arief juga mengatakan tidak benar jika PDIP adalah PKI serta menipu karena PDIP disebutnya partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Arief juga menambahkan bahwa PDIP adalah partai yang berlandaskan Pancasila dan bekerja serta memperjuangkan rakyat Indonesia untuk kemakmuran bangsa dan negara.
Pernyataan Arief ditujukan juga kepada Jokowi?
Menurut penulis, meskipun pernyataan Arief ditujukan kepada PDIP tetapi pernyataan tersebut bisa di bilang juga menyentil Jokowi. Tudingan PDIP sering disamakan dengan PKI karena menipu rakyat memang ditujukan langsung kepada PDIP , tetapi kalau di telusuri , isu PKI sudah gencar sejak menjelang Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo (ketua umum Partai Gerindra ) berlaga melawan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf kalla. Sekali lagi, isu PKI dianggap isu yang paling mudah untuk mengoyang Jokowi .
Maka , lontaran isu PKI yang menyasar PDIP ini pantas di curigai kalau tidak hanya di tujukan kepada PDIP semata. Karena PDIP adalah parpal terbesar yang mendukung Jokowi, maka tudingan kepada PDIP bisa dikatakan juga tudingan kepada Jokowi. Dan itu masuk akal kalau kita runtut hembusan dan tuduhan kencang soal Jokowi dan PKI.
Siapakah Arief Poyuono?
Dari berbagai sumber, diketahui bahwa Arief Poyuono atau nama lengkapnya FX Arief Poyuono SE adalah Wakil Ketua Umum bidang Buruh dan Ketenagakerjaan Partai Gerindra. Lelaki kelahiran Jakarta 1971 silam ini dikenal kerap bersuara keras mengatasnamakan buruh dan terkadang mengkritisi BUMN. Ia pernah menjadi caleg DPR RI Tahun 2014 dari Partai Gerindra Dapil Kalimantan Barat yang gagal menjadi anggota DPR.
Saat Ahok di tahan di Mako Brimob dan pendukung Ahok melakukan demo di Mako Brimob, Arief menyarankan pendukung Ahok untuk demo ke Istana Negara. Ia menilai yang mengajukan kasus Ahok ke pengadilan dan memvonis Ahok adalah pemerintahan Jokowi, sehingga pendukung Ahok mestinya menuntut ke pemerintahan (Jokowi) bukan ke Mako Brimno, Kejati Jakarta atau pengadilan Tinggi DKI Jakarta. "Jangan di Mako brimob atau Kejati Jakarta atau pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Pendukung Ahok bisa mendesak Presiden Joko Widodo sebagai tokoh yang menjamin penangguhan tahanan terhadap Ahok seperti yang dilakukan oleh Djarot," tutup Arie
ahun pemda DKI ga punya masjid, jaman Ahok dibuatin mesjidnya. Semua marbot mesjid (secara bertahap) di DKI diumrohin.
Orang2 yg hidup di bantaran kali tiap tahun kebanjiran, peluang mengeluarkan yang bantuan dan pengumpulan dana. Sekarang direlokasi ga kena banjir dan ga perlu ngeluarin APBD untuk penanggulangan bencana. Uangnya bisa dipake utk yg lain. Bikin mesjid, subsidi pendidikan, bikin bagus bus trans jakarta.
Kl ngomongin agama, dulu tiap kebanjiran pd solat ga ya mereka....sekarang bisa solat dg tenang karena di rusun ada mesjid.
Cek Gus Mus, buya Syafii. Kurang apa ilmu dan kebijaksanaannya? Ga khawatir soal ahok kan? Karena kita semua tahu mentornya Ahok itu Gus Dur, hanya beda akidah aja.
Jd kl ngomong menegakkan prinsip2 Islam Ahok lbh berani, hanya saja tidak bernilai pahala krn akidahnya. (Menurut konsep ibadah dlm islam). Bahkan Jokowi kalah galak.
Sayangnya di Indonesia terlalu banyak penghianat dan orang emosian ga rasional.
Tentang reklamasi, Jaman Foke sudah keluar ijinnya, dengan kompensasi ke pemda DKI cuma 5%. Sama Ahok diminta 15%, yaitu utk fasum dan perumahan kelas pekerja. Pengembang ya ngga sreg dunk
Emang pengembang ga merasa rugi?
Jane nek Ahok ora njaluk 15% ora bakal digoreng.
Ahon itu melawan ketidakadilan, dadi mbuh Cina, Arab, Melayu, Jawa nek ora fair ya dihajar. Mangkane akeh banget sing keganggu...terutama soal pendapatan sing selama ini bukan haknya.
Ngerti deal akhire?
Ahok nyerah, 15% tp di pergub bukan perda. Grand design-nya Ahok ora kepilih maning. Tp Sanusi keburu ketangkep kpk.
Kita semua sudah tahu yg terjadi hari ini, Ahok sukses dihajar kiri kanan.
Tentang kompensasi dan segala macem kewajiban swasta, Ini yg harusnya kita kawal.
Siapa yg bs mengawal? Salah satunya ya birokrat pemerintahan yang bersih (Tp selama ini birokrat penentu kan gampang disuap (yg idealis pelan2 tersingkir ga jadi penentu)
Dari apa yang disampaikan Arief, bisa dimaknai bahwa Arief segaja ingin membenturkan pendukung Ahok dengan Jokowi, Padahal selama ini bisa dikatakan bahwa pendukung Ahok itu juga pendukungnya jenis pakaian--tanpa kecuali--itu sekuler karena produk kebudayaan manusia. Manusialah yang membuatnya "religius". Manusialah yang membuat pakaian itu "beragama". Pakaian yang dikenakan kaum perempuan dari agama manapun juga sama: sekuler. Emang Tuhan yang membuat pakaian? Dalam Islam, tradisi berpakaian untuk perempuan, entah itu bernama hijab, niqab, burqa, chador (di Iran), khimar, faranji (di Asia Tengah), dlsb adalah "kebudayaan sekuler".
Tradisi berbusana menutup aurat bagi perempuan atau katakanlah "tradisi berhijab" sudah dipraktekkan jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. Sejarah berhijab itu misalnya sudah ditemukan pada abad ke-13 SM di sebuah teks hukum di Assyria. Memakai hijab pada waktu itu terbatas untuk perempuan elit ("bangsawati") sekaligus untuk membedakan dengan "perempuan biasa".
Kebudayaan Yunani kuno juga mempraktekkan tradisi hijab ini. Lihat saja dengan cermat, patung-patung perempuan di zaman peradaban Helenisme Yunani juga kadang-kadang mengenakan penutup kepala dan bahkan wajah. Caroline Galt dan Lloyd Llewellyn-Jones, begitu pula Homer, sastrawan kuno kondang dari Yunani, penulis Odyssey, juga mengonfirmasi tentang penggunaan hijab ini di zaman Yunani kuno. Bedanya dengan "Assyria kuno" adalah di Yunani kuno, praktek berhijab bukan hanya untuk "kelas elit" tapi juga untuk perempuan biasa.
Tradisi berhijab ini juga dipraktekkan dalam agama Yahudi dan Kristen. Simak saja ada sejumlah ayat dalam kitab suci Yahudi (Talmud) maupun kitab suci agama Kristen (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, misalnya saja di Surat Kejadian, Keluaran, Korinthus, dll) yang mengisahkan tentang hijab ini. Itulah sebabnya mengapa sejumlah kelompok Yahudi Ortodoks (seperti kelompok Yahudi Heradi) dan Kristen ortodoks kontemporer (Katolik, Amish, Old Order Mennonites, Gereja Kristen OrtodoksTimur, dlll) masih mengenakan hijab ini. Foto di bawah ini hanyalah sekedar contoh saja dari sejumlah kelompok suster Katolik dan Kristen Amish yang mengenakan hijab.
Dalam sejarahnya, penggunaan hijab ini, baik dalam Yahudi maupun Kristen, adalah simbol kesederhanan dan kepantasan. Perintah penggunaan penutup kepala bagi perempuan itu seperti larangan mengenakan topi bagi laki-laki saat berada di dalam gereja (begitulah pesan Santo Paulus). Karena itu jika ada umat Kristen dan Yahudi kontemporer yang menolak hijab sebetulnya mereka telah mengingkari dan menolak asal-usul dan warisan sejarah dan tradisi agamanya sendiri. Begitu pula, klaim umat Islam yang mengaggap hijab adalah tradisi dan "properti" mereka saja adalah keliru besar
. Beliau seorang profesional BUMN di sektor migas
Agak panjang. Yang sabar aja mbacanya

**
Kondisi sebenarnya:
Jakarta udah terlalu lama dijalankan dengan konspirasi birokrat+pengusaha yg melanggar prinsip2 dasar islam (kl mau bawa nama islam): anti Korupsi, keadilan, kesejahteraan, menindak pelanggaran hukum dll. Tidak ada satu gubernurpun yg berani menegakkan ke4nya secara bersamaan.
Di Jakarta banyak banget yang mengaku ustad bergaya hidup mewah dan nerapin standar ganda. Diantara mereka banyak banget yg trganggu dengan kebijakan Ahok (juga Jokowi)
Ini yg dilakukan Ahok:
1. Memaksa birokrat Jakarta bekerja, selama ini nampak cuma menyusahkan
2. Pengusaha hitam yg kongkalikong dipaksa tertib aturan.
3. Memberangus pemerasan tenaga kerja kontrak pemprov. Tadinya cuma dikasih 300rb perbulan sekarang smp 3 juta. Kontrak pemprov dki dengan vendor tenaga kerja dr dulu ya sudah 3 jt an tp menguap
sue PKI menjadi isu yang laku keras jelang Pilpres. Sebut saja menjelang Pilpres tahun 2014 yang lalu di mana Jokowi di serang dengan isu PKI. Kampanye hitam tentang Jokowi dan PKI mulai menghantam dirinya sejak berlaga dalam Pilpres. Tak tanggung-tanggung, di sebut-sebut ada ideologi komunis di belakang Jokowi. Saat itu, kubu lawan Jokowi yaitu pasangan capres -cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa mengkritik program Revolusi Mental Jokowi. Program Jokowi tersebut dinilai berawal dari paham komunis. Bahkan Fadli Zon, Sekretaris tim pemenangan Prabowo-Hatta kala itu mengatakan bahwa Revolusi Mental digunakan tokoh-tokoh berhaluan kiri untuk menghapus sesuatu yang berbau agama.
Mas Anise mengatakan, majunya dia sebagai calon gubernur DKI bukan atas keinginan dia, tetapi atas keinginan Prabowo Subianto dan PKS. Dengan kata lain, Mas Anise mau bilang bahwa sebetulnya ia bukan orang yang haus kekuasaan, ia sebenarnya tak punya ambisi menjadi gubernur DKI Jakarta, tetapi karena diminta oleh Gerindra dan PKS, maka ia terima. Padahal banyak calon dari PKS yang menangis akan keputusan ini
Saat menjadi juru kampanye Jokowi, Anise beberapa kali mengecam langkah politik Prabowo. Salah satu kritik keras Anise "Kita tahu siapa Prabowo karena sudah beriklan selama 6 tahun di televisi. Cara berpolitik dengan biaya luar biasa mahal, tidak membuat politik menjadi lebih sehat
Bahkan di dalam suatu kesempatan Pilpres 2014, Anise juga pernah mengingatkan rakyat Indonesia bahwa kubu Prabowo-Hatta diduga diusung oleh sejumlah partai politik yang dibekingi oleh mafia, seperti mafia migas (Petral), impor daging sapi (PKS), haji, pengadaan Alquran (PPP), dan lumpur Lapindo (Golkar).
Ada isu yang mengatakan bahwa Jokowi mencopot Anise karena dia mengendus ternyata Anise memanfaatkan jabatannya itu untuk menggalang kekuatan untuk Pilpres 2019. Apakah benar begitu? Hanya Anise dan Tuhan yang tahu.
Ada juga analisis yang mengatakan Anise dicopot dikarenakan tekanan politik, ini pun lemah, karena kekuatan politik manakah yang bisa menekan Jokowi, sedangkan keinginan PDIP agar menunjuk Budi Gunawan menjadi Kapolri saja ditolak Jokowi
Mas Anise sepertinya kecewa berat karena dicopot dari jabatannya. Seketika itu pulalah sikapnya berubah, jika pendukung Jokowi memiliki pakem "Jika ingin mencari kebenaran maka berdirilah dimana lawan PKS berada", maka Mas Anise sepertinya memilih berdiri disana. Iming-iming kekuasaan sudah membutakannya dari yang semula penentang dan pengkritik keras Prabowo, sekarang Mas Anise menjadi “anak buah” Prabowo, Konco si Zonk, dan "kader baru" Partai Gerindra
Genderang ludruk nya mulai ditabuh,..alih alih bukannya merangkul pemilih yang sedang mengambang karena kasus penistaan agama tapi mas anise malah ikut ikutan merobek-robek kain kebangsaan kita, bukannya mas anise ikut menyatukan umat yang terpecah pecah malah sebaliknya Mas Anise ikut menari di Genderang tersebut, butanya hati membuat Mas Anise tidak dapat melihat kesempatan emas untuk menyatukan mereka yang berserakan untuk tujuan yang lebih besar lagi
Dimana Mas Anise yang dulu ikut jihad menjaga tenun kebangsaan Indonesia tetapi sekarang Mas Anise bisu, buta dan tuli disaat ormas FPI merobek tenun kebangsaan kita, bahkan Mas Anise ikut menjadi cheerleader ormas tersebut hanya karena untuk Pilkada DKI,..OKOCOK Mas Anise,..Persatuan Indonesia lebih penting dari sekedar Gubernur DKI yang hanya 5 tahunan
Dimana Mas Anise sewaktu Prabowo mengeluarkan pernyataan “Siapa yang tidak mendukung Sandiaga Uno adalah antek asing!”. Demokrasi macam apa ini mas Anise ? Mengapa Mas Anise diam ?, tapi sebaliknya jika Mas Anise mengkritisi kebijakan Basuki Tjahaya Purnama mas Anise sungguh Jagonya Ayam dengan pilihan kosa kata yang santun tapi mengiris ulu hati, walaupun isinya telek belaka
Mas Anise sudah berlayar bertransformasi menjadi politikus pragmatis dan oportunis ? Sayangnya Mas Anise memilih Politikus minim karakter, Mas Anise sedang mabuk Pilkada rasa Pilpres, "karena rasa itu tidak pernah dia cicipi sewaktu pilpres 2014" ujar De Fatah
Selamat bergabung Mas Anise kedalam Genk 7 dosa Sosial Mahatma Gandhi
Nama Mas Anise dalam tulisan ini bukan Tokoh Anies Baswedan si Beghawan Indonesia yang dulu
tim sukses pemenangan Prabowo - Hatta Rajasa , Letjen Purn Suryo Wibowo pernah mengatakan kampanye pendukung Jokowi - Jusuf Kalla di Yogyakarta bertindak brutal mirip komunis. Sikap brutal tim pendukung Jokowi - JK tersebut dinilai cermin dari model kepemimpinan rezim preman. https://www.merdeka.com/politik/kubu-prabowo-mulai-serang-jokowi-dengan-...
Nah, 2 tahun menjelang Pilpres tahun 2019, isu PKI mulai di goreng kembali untuk menghantam dan mengoyang Jokowi.
Isu PKI memang isu yang seksi bagi kubu sebelah, karena ‘hantu’ PKI di anggap paling mudah untuk mengerakkan emosi rakyat Indonesia dan muaranya tidak lagi simpati bahkan membenci Jokowi. Rentetan isu PKI yang sempat mereda setelah kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu , kembali di sebarkan . Tidak hanya itu, isu Jokowi anti umat islam, pro China dan PKI, tukang hutang dll terus di hembuskan. Semuanya bertujuan satu yaitu Jokowi tidak akan terpilih pada Pilpres 2019 mendatang.Kejam dan licik bukan? Ya itulah politik yang kejam dan menguar aroma busuk , menghalalkan segara cara untuk meraih kemenangan .
Isu PKI yang dianggap seksi untuk dihembuskan tersebut, meluncur juga dari mulut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyouno yang menyamakan PDIP seperti PKI. Meskipun kemudian ia segera meminta maaf secara terbuka kepada PDIP, tetapi jejak pernyataannya tidak akan dilupakan begitu saja. Dalam permintaan maafnya, Arief juga mengatakan tidak benar jika PDIP adalah PKI serta menipu karena PDIP disebutnya partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Arief juga menambahkan bahwa PDIP adalah partai yang berlandaskan Pancasila dan bekerja serta memperjuangkan rakyat Indonesia untuk kemakmuran bangsa dan negara.
Pernyataan Arief ditujukan juga kepada Jokowi?
Menurut penulis, meskipun pernyataan Arief ditujukan kepada PDIP tetapi pernyataan tersebut bisa di bilang juga menyentil Jokowi. Tudingan PDIP sering disamakan dengan PKI karena menipu rakyat memang ditujukan langsung kepada PDIP , tetapi kalau di telusuri , isu PKI sudah gencar sejak menjelang Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo (ketua umum Partai Gerindra ) berlaga melawan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf kalla. Sekali lagi, isu PKI dianggap isu yang paling mudah untuk mengoyang Jokowi .
Maka , lontaran isu PKI yang menyasar PDIP ini pantas di curigai kalau tidak hanya di tujukan kepada PDIP semata. Karena PDIP adalah parpal terbesar yang mendukung Jokowi, maka tudingan kepada PDIP bisa dikatakan juga tudingan kepada Jokowi. Dan itu masuk akal kalau kita runtut hembusan dan tuduhan kencang soal Jokowi dan PKI.
Siapakah Arief Poyuono?
Dari berbagai sumber, diketahui bahwa Arief Poyuono atau nama lengkapnya FX Arief Poyuono SE adalah Wakil Ketua Umum bidang Buruh dan Ketenagakerjaan Partai Gerindra. Lelaki kelahiran Jakarta 1971 silam ini dikenal kerap bersuara keras mengatasnamakan buruh dan terkadang mengkritisi BUMN. Ia pernah menjadi caleg DPR RI Tahun 2014 dari Partai Gerindra Dapil Kalimantan Barat yang gagal menjadi anggota DPR.
Saat Ahok di tahan di Mako Brimob dan pendukung Ahok melakukan demo di Mako Brimob, Arief menyarankan pendukung Ahok untuk demo ke Istana Negara. Ia menilai yang mengajukan kasus Ahok ke pengadilan dan memvonis Ahok adalah pemerintahan Jokowi, sehingga pendukung Ahok mestinya menuntut ke pemerintahan (Jokowi) bukan ke Mako Brimno, Kejati Jakarta atau pengadilan Tinggi DKI Jakarta. "Jangan di Mako brimob atau Kejati Jakarta atau pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Pendukung Ahok bisa mendesak Presiden Joko Widodo sebagai tokoh yang menjamin penangguhan tahanan terhadap Ahok seperti yang dilakukan oleh Djarot," tutup Arie
ahun pemda DKI ga punya masjid, jaman Ahok dibuatin mesjidnya. Semua marbot mesjid (secara bertahap) di DKI diumrohin.
Orang2 yg hidup di bantaran kali tiap tahun kebanjiran, peluang mengeluarkan yang bantuan dan pengumpulan dana. Sekarang direlokasi ga kena banjir dan ga perlu ngeluarin APBD untuk penanggulangan bencana. Uangnya bisa dipake utk yg lain. Bikin mesjid, subsidi pendidikan, bikin bagus bus trans jakarta.
Kl ngomongin agama, dulu tiap kebanjiran pd solat ga ya mereka....sekarang bisa solat dg tenang karena di rusun ada mesjid.
Cek Gus Mus, buya Syafii. Kurang apa ilmu dan kebijaksanaannya? Ga khawatir soal ahok kan? Karena kita semua tahu mentornya Ahok itu Gus Dur, hanya beda akidah aja.
Jd kl ngomong menegakkan prinsip2 Islam Ahok lbh berani, hanya saja tidak bernilai pahala krn akidahnya. (Menurut konsep ibadah dlm islam). Bahkan Jokowi kalah galak.
Sayangnya di Indonesia terlalu banyak penghianat dan orang emosian ga rasional.
Tentang reklamasi, Jaman Foke sudah keluar ijinnya, dengan kompensasi ke pemda DKI cuma 5%. Sama Ahok diminta 15%, yaitu utk fasum dan perumahan kelas pekerja. Pengembang ya ngga sreg dunk
Emang pengembang ga merasa rugi?
Jane nek Ahok ora njaluk 15% ora bakal digoreng.
Ahon itu melawan ketidakadilan, dadi mbuh Cina, Arab, Melayu, Jawa nek ora fair ya dihajar. Mangkane akeh banget sing keganggu...terutama soal pendapatan sing selama ini bukan haknya.
Ngerti deal akhire?
Ahok nyerah, 15% tp di pergub bukan perda. Grand design-nya Ahok ora kepilih maning. Tp Sanusi keburu ketangkep kpk.
Kita semua sudah tahu yg terjadi hari ini, Ahok sukses dihajar kiri kanan.
Tentang kompensasi dan segala macem kewajiban swasta, Ini yg harusnya kita kawal.
Siapa yg bs mengawal? Salah satunya ya birokrat pemerintahan yang bersih (Tp selama ini birokrat penentu kan gampang disuap (yg idealis pelan2 tersingkir ga jadi penentu)
Dari apa yang disampaikan Arief, bisa dimaknai bahwa Arief segaja ingin membenturkan pendukung Ahok dengan Jokowi, Padahal selama ini bisa dikatakan bahwa pendukung Ahok itu juga pendukungnya jenis pakaian--tanpa kecuali--itu sekuler karena produk kebudayaan manusia. Manusialah yang membuatnya "religius". Manusialah yang membuat pakaian itu "beragama". Pakaian yang dikenakan kaum perempuan dari agama manapun juga sama: sekuler. Emang Tuhan yang membuat pakaian? Dalam Islam, tradisi berpakaian untuk perempuan, entah itu bernama hijab, niqab, burqa, chador (di Iran), khimar, faranji (di Asia Tengah), dlsb adalah "kebudayaan sekuler".
Tradisi berbusana menutup aurat bagi perempuan atau katakanlah "tradisi berhijab" sudah dipraktekkan jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. Sejarah berhijab itu misalnya sudah ditemukan pada abad ke-13 SM di sebuah teks hukum di Assyria. Memakai hijab pada waktu itu terbatas untuk perempuan elit ("bangsawati") sekaligus untuk membedakan dengan "perempuan biasa".
Kebudayaan Yunani kuno juga mempraktekkan tradisi hijab ini. Lihat saja dengan cermat, patung-patung perempuan di zaman peradaban Helenisme Yunani juga kadang-kadang mengenakan penutup kepala dan bahkan wajah. Caroline Galt dan Lloyd Llewellyn-Jones, begitu pula Homer, sastrawan kuno kondang dari Yunani, penulis Odyssey, juga mengonfirmasi tentang penggunaan hijab ini di zaman Yunani kuno. Bedanya dengan "Assyria kuno" adalah di Yunani kuno, praktek berhijab bukan hanya untuk "kelas elit" tapi juga untuk perempuan biasa.
Tradisi berhijab ini juga dipraktekkan dalam agama Yahudi dan Kristen. Simak saja ada sejumlah ayat dalam kitab suci Yahudi (Talmud) maupun kitab suci agama Kristen (baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, misalnya saja di Surat Kejadian, Keluaran, Korinthus, dll) yang mengisahkan tentang hijab ini. Itulah sebabnya mengapa sejumlah kelompok Yahudi Ortodoks (seperti kelompok Yahudi Heradi) dan Kristen ortodoks kontemporer (Katolik, Amish, Old Order Mennonites, Gereja Kristen OrtodoksTimur, dlll) masih mengenakan hijab ini. Foto di bawah ini hanyalah sekedar contoh saja dari sejumlah kelompok suster Katolik dan Kristen Amish yang mengenakan hijab.
Dalam sejarahnya, penggunaan hijab ini, baik dalam Yahudi maupun Kristen, adalah simbol kesederhanan dan kepantasan. Perintah penggunaan penutup kepala bagi perempuan itu seperti larangan mengenakan topi bagi laki-laki saat berada di dalam gereja (begitulah pesan Santo Paulus). Karena itu jika ada umat Kristen dan Yahudi kontemporer yang menolak hijab sebetulnya mereka telah mengingkari dan menolak asal-usul dan warisan sejarah dan tradisi agamanya sendiri. Begitu pula, klaim umat Islam yang mengaggap hijab adalah tradisi dan "properti" mereka saja adalah keliru besar
Komentar
Posting Komentar