lepas dari perjuangan emansipasi yang semakin menggelora, pria dan wanita itu memang diciptakan berbeda.
Kentut bukanlah sesuatu yang aib untuk dibicarakan, namun merupakan fenomena yang normal dan menyehatkan. Dalam hal kentut ini saja jelas sekali bedanya antara pria dan wanita.
Pada kondisi normal pria maupun wanita akan mengeluarkan gas sebanyak 1.5 liter setiap harinya berupa kentut. Namun jika ditinjau dari segi frekuensi dalam sehari nya ternyata ada perbedaan antara pria dan wanita.
Kaum pria rata rata dalam seharinya mengeluarkan kentut sebanyak 12 kali, sedangkan wanita hanya 7 kali saja. Hal ini disebabkan karena aktivitas kontraksi otot saluran pencernaan pria lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita.
Dalam hal gangguan pencernaan pun ternyata pria dan wanita juga berbeda karena adanya perbedaan aktivitas perototan saluran pencernaan.
Jika diamati lebih mendalam, maka kita akan menemukan fakta bahwa aktivitas perototan pada saluran pencernaan wanita lebih rendah jika dibandingkan dengan pria. Hal ini memiliki implikasi bahwa makanan akan mengalami perjalanan yang lebih lama dalam saluran pencernaan wanita. Oleh sebab itu, peluang wanita mengalami sembelit dan kembung lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria.
Sebenarnya wanita dan pria sama sama memproduksi sekitar 25 liter gas dari aktivitas saluran pencernaan setiap harinya, namun gas yang dihasilkan oleh wanita lebih banyak tertahan di usus halus dan usus besar karena lebih lambatnya pergerakan makanan di saluran pencernaan sehingga seringkali menimbulkan rasa sebah yang tentunya tidak menyenangkan. Sebagai akibatnya kejadian kembung pada wanita 8 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria.
Tidak hanya menyangkut kentut dan kembung saja ternyata dalam hal sistem kekebalan tubuh pria dan wanita juga berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih aktif jika dibandingkan dengan pria. Perbedaan ini diperkirakan karena adanya peran hormon yang berbeda dimana pada wanita hormon estrogen yang lebih berperan, sedangkan pada pria hormon testosterone yang lebih berperan.
Perbedaan ini menimbulkan femonena dimana wanita memproduksi lebih banyak sel kekebalan tubuh dan reaksi kimia untuk memerangi ancaman penyakit seperti bakteri dan virus. Perbedaan sistem kekebalan tubuh inilah yang menyebabkan wanita lebih tahan terhadap infeksi dan juga infeksi parasit dan jamur jika dibandingkan dengan kaum pria.
Lebih aktifnya sistem kekebalan tubuh pada wanita ini juga seringkali menimbulkan resiko, karena sistem kekebalan tubuh wanita justru menyerang sel sel yang sehat seperti yang tejadi pada kasus penyakit lupus dll.
Data juga menunjukkan bahwa penyakit autoimmune lebih banyak terjadi pada wanita yang angkanya mencapai 80% dari total penderita.
Banyak mitos yang berkembang bahwa wanita itu lebih tahan menanggung rasa sakit jika dibandingkan dengan pria, benarkah demikian?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata wanitajustru lebih sensitif terhadap rasa sakit jika dibandingkan dengan pria. Tidak hanya sampai disitu saja, bahkan ternyata wanita juga memiliki toleransi terhadap rasa sakit yang juga lebih rendah jika dibandingkan dengan pria.
Kepekaan kaum wanita terhadap rasa sakit ini tercermin dari data empiris yang menunjukan bahwa lebih banyak wanita yang mengalami rasa sakit yang kronis jika dibandingkan dengan laki laki. Hal ini didukung oleh data bahwa 70% pasien penderita rasa sakit kronis adalah wanita.
Demikian juga jumlah penderita sakit kepala kronis di kalangan wanita angkanya 50% lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka yang terjadi pada pria.
Perbedaaan respon wanita dan laki laki yang berbeda terhadap rasa sakit ini sangat erat hubungannya dengan perbedaan gen dan hormon. Kemungkinan besar diduga bahwa sel sel yang menangkap dan memproses signal rasa ini berbeda antara wanita dan laki laki.
Contoh contoh hasil penelitian di atas hanya merupakan sebagian kecil saja bukti yang menunjukkan bawa pria dan wanita itu memang diciptakan berbeda. Perbedaan inilah merupakan hikmah tersendiri, karena jika disatukan pria dan wanita itu akan saling melengkapi.
Kentut bukanlah sesuatu yang aib untuk dibicarakan, namun merupakan fenomena yang normal dan menyehatkan. Dalam hal kentut ini saja jelas sekali bedanya antara pria dan wanita.
Pada kondisi normal pria maupun wanita akan mengeluarkan gas sebanyak 1.5 liter setiap harinya berupa kentut. Namun jika ditinjau dari segi frekuensi dalam sehari nya ternyata ada perbedaan antara pria dan wanita.
Kaum pria rata rata dalam seharinya mengeluarkan kentut sebanyak 12 kali, sedangkan wanita hanya 7 kali saja. Hal ini disebabkan karena aktivitas kontraksi otot saluran pencernaan pria lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita.
Dalam hal gangguan pencernaan pun ternyata pria dan wanita juga berbeda karena adanya perbedaan aktivitas perototan saluran pencernaan.
Jika diamati lebih mendalam, maka kita akan menemukan fakta bahwa aktivitas perototan pada saluran pencernaan wanita lebih rendah jika dibandingkan dengan pria. Hal ini memiliki implikasi bahwa makanan akan mengalami perjalanan yang lebih lama dalam saluran pencernaan wanita. Oleh sebab itu, peluang wanita mengalami sembelit dan kembung lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria.
Sebenarnya wanita dan pria sama sama memproduksi sekitar 25 liter gas dari aktivitas saluran pencernaan setiap harinya, namun gas yang dihasilkan oleh wanita lebih banyak tertahan di usus halus dan usus besar karena lebih lambatnya pergerakan makanan di saluran pencernaan sehingga seringkali menimbulkan rasa sebah yang tentunya tidak menyenangkan. Sebagai akibatnya kejadian kembung pada wanita 8 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria.
Tidak hanya menyangkut kentut dan kembung saja ternyata dalam hal sistem kekebalan tubuh pria dan wanita juga berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih aktif jika dibandingkan dengan pria. Perbedaan ini diperkirakan karena adanya peran hormon yang berbeda dimana pada wanita hormon estrogen yang lebih berperan, sedangkan pada pria hormon testosterone yang lebih berperan.
Perbedaan ini menimbulkan femonena dimana wanita memproduksi lebih banyak sel kekebalan tubuh dan reaksi kimia untuk memerangi ancaman penyakit seperti bakteri dan virus. Perbedaan sistem kekebalan tubuh inilah yang menyebabkan wanita lebih tahan terhadap infeksi dan juga infeksi parasit dan jamur jika dibandingkan dengan kaum pria.
Lebih aktifnya sistem kekebalan tubuh pada wanita ini juga seringkali menimbulkan resiko, karena sistem kekebalan tubuh wanita justru menyerang sel sel yang sehat seperti yang tejadi pada kasus penyakit lupus dll.
Data juga menunjukkan bahwa penyakit autoimmune lebih banyak terjadi pada wanita yang angkanya mencapai 80% dari total penderita.
Banyak mitos yang berkembang bahwa wanita itu lebih tahan menanggung rasa sakit jika dibandingkan dengan pria, benarkah demikian?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata wanitajustru lebih sensitif terhadap rasa sakit jika dibandingkan dengan pria. Tidak hanya sampai disitu saja, bahkan ternyata wanita juga memiliki toleransi terhadap rasa sakit yang juga lebih rendah jika dibandingkan dengan pria.
Kepekaan kaum wanita terhadap rasa sakit ini tercermin dari data empiris yang menunjukan bahwa lebih banyak wanita yang mengalami rasa sakit yang kronis jika dibandingkan dengan laki laki. Hal ini didukung oleh data bahwa 70% pasien penderita rasa sakit kronis adalah wanita.
Demikian juga jumlah penderita sakit kepala kronis di kalangan wanita angkanya 50% lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka yang terjadi pada pria.
Perbedaaan respon wanita dan laki laki yang berbeda terhadap rasa sakit ini sangat erat hubungannya dengan perbedaan gen dan hormon. Kemungkinan besar diduga bahwa sel sel yang menangkap dan memproses signal rasa ini berbeda antara wanita dan laki laki.
Contoh contoh hasil penelitian di atas hanya merupakan sebagian kecil saja bukti yang menunjukkan bawa pria dan wanita itu memang diciptakan berbeda. Perbedaan inilah merupakan hikmah tersendiri, karena jika disatukan pria dan wanita itu akan saling melengkapi.
Komentar
Posting Komentar