Langsung ke konten utama

fURQOH QODHAF




]
 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: 
Kelemahan umat Islam terdapat pada banyak sisi kehidupan, baik pribadi atau masyarakat. Boleh dikatakan di semua sisi kehidupan. Di antaranya yang bisa disebutkan di sini adalah:
 a. Lemah Aqidah
 Aqidah adalah pegangan hidup yang utama dan menjadi fondasi untuk lahirnya  imanul ‘amiq (keimanan yang mendalam). Aqidah yang kuat hanya menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya penolong dari kesulitan hidup dan permasalahnnya. Tidak takut mati, apalagi takut miskin. Sebab seorang yang mengimani Allah Ta’ala sebagai pengatur hidup akan merasa aman dan tentram hatinya ketika menyandarkan dirinya kepada pemiliki kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan orang yang aqidahnya lemah, dia lebih takut dengan ancaman makhluk dibanding azab Allah Ta’ala. Seperti yang terjadi saat ini, umat Islam (khususnya para pemimpinnya) lebih takut dengan ‘azab’ yang diberikan Amerika Serikat dan sekutunya dibanding azab dari Rabb mereka. Begitu juga ketika sepasang manusia berzina, mereka lebih takut hamil dibanding takut kepada Allah Ta’ala.
 Berbeda dengan Sumayyah, seorang wanita yang mati syahid dan menjadi syahid pertama dalam Islam. Dia tetap memgang teguh agama tauhid walau mengalami penyiksaan yang membuatnya dibunuh secara keji.
 Berbeda dengan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat nabi yang disiksa dengan ditindih batu besar pada siang yang amat panas, agar ia mau keluar dari agama Islam dan kembali mengakui ketuhanan kolektif Arab jahiliyah. Tetapi dia tetap dalam keimanannya, dan mengatakan; “ahad .. ahad .. ahad … (Yang Maha Tunggal (Esa) ….)
 Berbeda dengan Masyithah, seorang wanita pelayan di istana Fir’aun yang tetap teguh menyembah Allah Ta’ala dan menolak pengakuan ketuhanan Fir’aun. Dia bersama keluarganya direbus hidup-hidup untuk mempertahankan aqidahnya.
 Ya, kita berbeda dengan mereka. Begitu sabar dan teguhnya aqidah mereka …
 b. Lemah Ekonomi
 Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kaum Muslimin benar-benar merasakan baldatun thayyibatun (negeri yang  makmur). Sampai-sampai Srigala menyusu kepada Domba, padahal domba adalah mangsa Srigala! Saat itu, pemerintah kesulitan mencari faqir miskin untuk menerima zakat, akhirnya harta zakat disalurkan ke negeri-negeri non muslim.
 Pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, dia pernah keluar dari istana sambil menatap langit yang sedang mendung:
 “Ya Allah, turunkanlah hujan di mana Engkau mau. Jika Kau turunkan di Barat maka itu adalah negeri kami, jika Kau turunkan di Timur itu juga negeri kami.”
 Apa yang dikatakannya melambangkan kemakmuran negeri Islam yang merata dan begitu luas. Sehingga dua khalifah ini termasuk deretan para khalifah yang paling sering disebut namanya setelah empat khulafa’ur rasyidin.
 Kemandirian ekonomi adalah salah satu penopang kekuatan, dan Islam sangat menekankan hal itu. Seorang yang berhutang biasanya akan mengalami penurunan kekuatan. Daya kritis, kemandirian, dan sebagainya akan mudah didikte oleh orang yang memberinya hutang. Begitu pula dalam tingkat negara. Negara-negara miskin – kebanyakan negara muslim - mudah sekali dikendalikan oleh kekuatan asing yang menjadi donor bagi dana pembangunan negerinya.
Maka, wajar kalau Islam tidak menyukai kefaqiran. Hal ini terbukti dari berbagai doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang  diajarkannya untuk umatnya berisi perlindungan  dari kefaqiran.
 Diantaranya: 
اللهمّ إني أعوذ بك من الكفر والفقر
 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekafiran dan kefaqiran.” (HR. Abu Daud No. 5090, Ibnu Hibban No. 1026, An Nasa’i No. 1347, Ibnu Khuzaimah No. 747, Ahmad No. 20381, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/251. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wad Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1347 )
 Doa lainnya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gelisah dan sedih, dan lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR.   Bukhari No. 2736, 6002,  At Tirmidzi No. 3484,  Abu Daud No. 1541, An Nasa’i No.5476, Abu Ya’la No. 3695, 4003, Ibnul Ju’di No. 2908)
 c. Lemah Propaganda
 Dunia propaganda, melalui media elektronik seperti TV, Radio, dan internet, atau media cetak seperti majalah dan buku, ternyata telah melampaui batas fungsinya sebagai jendela informasi bagi manusia. Saat ini sarana ini telah dijadikan alat untuk memojokkan Islam dan kaum Muslimin.  Media Barat telah menggiring opini dunia  untuk menyebutnya sebagai teroris, agama pedang, penindas kaum wanita, dan sebagainya. Begitu kuat jaringan mereka, satu sama lain saling membantu.
 Orang shalih bisa jadi buruk lantaran diberitakan buruk, dan orang jahat bisa menjadi pahlawan karena diberitakan sebagai pahlawan. Inilah keajaiban propaganda. Dan, sayangnya tidak sedikit umat Islam yang terpukau oleh media mereka dan termakan oleh isu dan hasutan yang mereka buat. Kita selalu meng-iya-kan kata mereka. Persis yang Al Quran katakan:
 Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. (QS. Al Munafiqun (63); 4)
 Sementara, di sisi umat Islam sendiri mereka lemah. Belum ada kantor berita umat Islam yang menjadi media rujukan utama sebagai penyeimbang, jangankan secara internasional, secara nasional pun belum ada, sekali pun ada hanya menjangkau lapisan yang sangat ekslusif dan terbatas. Wal hasil, tidak ada pilihan lain akhirnya mereka menjadikan media Barat sebagai rujukan, walau mereka telah tahu bahwa media tersebut tidak akan pernah objektif dan adil ketika berhadapan dengan kepentingan Islam dan kaum Muslimin.
 3. Adz Dzullah (Direndahkan)
Ini merupakan efek domino yang otomatis dari kebodohan dan kelemahan, sebab tidak ada orang bodoh dan lemah yang memiliki wibawa dan kehormatan.
 Lihatlah dunia! Mereka ramai menyalahkan pemerintah Indonesia ketika kasus di Timor Timur (sekarang Timor Leste), bahkan mereka mengintervensi sehingga provinsi ini lepas dari Indonesia. Ada pun Papua, pun sedang mengalami hal yang sama. Begitu mudahnya negeri muslim diobok-obok oleh kekuatan asing.
 Ketika kedung kembar WTC (World Trade Center) ditabrak oleh dua pesawat yang tidak jelas siapa pelakunya. Bahkan, CIA tidak berani memastikan. Namun, Amerika Serikat dengan kesombongannya langsung menyalahkan pemerintah Taliban di Afghanistan, sebuah negeri miskin dan terbelakang. Afghanistan diserang oleh tentara Amerika Serikat tanpa peduli protes Dunia Muslim dan yang masih punya nurani kemanusiaan.
 Begitu pula yang terjadi Iraq,  Presidennya dijatuhkan oleh kekuatan negara lain, bukan kekuatan yang berasal dari rakyatnya sendiri. Umat Islam dunia juga tidak berkutik.
 Jalur Gaza akhir 2008 dan awal 2009. Negara Zionis Israel menyerang Gaza sebuah kota kecil yang hanya dijaga oleh milisi mujahidin HAMAS yang tidak seberapa banyak. Umat Islam yang setengah miliar di Timur Tengah, diacak-acak oleh kebiadaban tentara Zionis Israel di sana. Mereka hanya menonton dan menangis, paling jauh demonstrasi. Bahkan mayoritas umat ini tidak peduli karena sibuk dengan dunianya masing-masing. Kemana umat Islam? Kemana pemimpin kaum Muslimin? Kemana Al Mu’tashim abad modern? Kemana satu setengah miliar umat Islam?
 “Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab: “Justru saat itu kalian  banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemparkan ke dalam hati kalian penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah No. 4297, Ahmad No. 22397, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 958)
4. Al Furqah (Perpecahan)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...

kursus berperkara sdviokas