Langsung ke konten utama

berfikir dan mencipta - hartini wiro 2011



Berpikir adalah mencipta.
Saya menemukan kalimat keren itu tertulis di wajah tembok di salah satu sudut gedung Siola Surabaya pagi ini. Di bawah tulisan tersebut tertulis nama HOS Tjokroaminoto yang berarti kalimat itu merupakan ucapan dan 'milik' dari pahlawan nasional yang kisah ketokohannya sudah difilmkan ini.
Saya lantas tergoda untuk mengaitkan kalimat itu dengan proses kreatif dalam menghasilkan tulisan. Ya, sebuah tulisan lahir karena adanya proses kreatif berupa membaca, membaca, membaca dan juga mencari data-data. Singkat kata, tulisan itu tercipta karena berpikir.
Ya, menghasilkan tulisan itu ada proses kreatifnya. Dan, dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, makna kreatif ini berarti memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Karenanya, menyalin alias men-copy paste tulisan milik orang lain atau (lebih jujur nya) mencuri tulisan milik orang lain tanpa seizin penulisnya, bukan termasuk proses kreatif.
Ketika saya memposting foto berisi tulisan tersebut di akun Instagram saya, ada seorang kawan yang lantas berkomentar "Ini ngomongin soal "how can you do that me" yaa. Hmmm saya tidak sedang membahas nama yang sedang tenar karena rame diberitakan oleh media arus utama dan bukan arus utama perihal dugaan menjiplak tulisan orang lain itu. Tidak. Saya memilih untuk sekadar tahu informasi nya saja. Tidak berkomentar lebih. Saya memilih menjauhi prasangka.
Justru, ketika ngobrol dengan beberapa kawan terkait hal itu, saya lebih suka mengajak mereka melihat diri sendiri. Ya, jangan sampai karena tidak suka dengan orang, kita lantas mencemoohnya seperti orang kesurupan yang ngomongnya nggak karu-karuan. Padahal, kita mungkin malah belum berpikir apapun untuk menghasilkan karya. Atau yang lebih memalukan, boleh jadi, dalam keseharian, ternyata kita juga doyan melakukan hal serupa tetapi seolah lupa.
Ya, berpikir adalah mencipta. Mencipta sebuah tulisan. Dan bila tulisannya bukan dari proses berpikir (yang diawali dengan banyak membaca referensi dan data), boleh jadi tulisannya itu sekadar milik orang lain yang diklaim atas nama si tukang klaim. Boleh jadi tulisan itu hasil menjiplak. Dengan bahasa yang keras, boleh jadi tulisan itu hasil mencuri tulisan orang lain.
Bukankah sekarang ini tidak sulit untuk menemukan orang-orang dengan 'hobi' seperti itu. Mudah menemukan para penjiplak itu baik di dunia nyata maupun di dunia tak nyata (maya). Karena memang, sekarang ini mudah sekali mendapatkan bahan tulisan dengan cuma mengetik kata yang akan ditulis.  
Memang, bukan hal mudah menulis berdasarkan ide-ide yang benar-benar murni dan asli dari kita. Karena memang, kebanyakan kita menghimpun informasi berdasarkan dari apa yang kita baca (tulisan orang lain), dengar (gagasan orang lain) dan lihat (peristiwa yang terjadi). Informasi itulah yang kemudian diolah kreatif menjadi sebuah tulisan. Yang penting, masih ada proses kreatifnya. Bukan malah mematikan kemampuan otak dengan sekadar menjiplak.
Semoga kita yang rajin menulis di Kompasiana ini, yang hampir setiap hari menulis dengan multi tujuan: menginformasi, mengedukasi, menginspirasi, berinteraksi, menghibur, mendapatkan hadiah, atau tujuan lainnya, semoga kita masih suka untuk berpikir dalam mencipta tulisan. Semoga kita tidak tergoda untuk menjiplak tulisan orang lain. Sebab, bila kita menulis untuk menyampaikan kebenaran dan niat mulia lainnya, bagaimana kebenaran dan niat mulia itu bisa tersampaikan bila pesannya ternyata dari hasil mencuri

1/Seorang pelawak pernah dikabarkan telah (di)berhenti(kan) dari beberapa stasiun tv karena dikira menghina satu golongan tertentu.
2/Edgar Allan Poe pernah menulis sebuah cerita pendek yang mengisahkan betapa kelamnya kehidupan seorang pelawak pada masa kerajaan: Hop-Frog.
3/Dulu, bersama pasangan saya yang-telah-menjadi-dahulu, kami sering mendebat apa saja. Yang lebih sering karena selera; yang jarangnya karena sikap. Buat kami, dulu, itu seru: perbedaan (pendapat) menjadi warna dalam hubungan kita.
Namun, ada satu perdebatan oleh kami --saya, khususnya-- sebisa mungkin hindari: tentang siapa dia antara kami yang percaya apa kebetulan itu ada?
Bukan karena tidak ingin. Tidak! Tapi ketika argumen saya tidak bisa dibantah olehnya, untuk yang satu ini, kami lebih sering bertengkar. Kemudian kami saling diam-diam untuk waktu yang cukup lama. Saya tidak suka pertengkaran, begitu juga dia, saya kira.
Bagi saya kebetulan itu tidak ada. Semua sudah diatur dari sana-Nya. Dia tidak percaya. Kebetulan itu ada, sebab semua yang dilakukan tiba-tiba (improvisasi atau apalah itu) menghasilkan kebetulan yang tidak diduga. Sudah begitu, kami punya latar kepercayaan dan keyakinan yang berbeda. Sudah. Kelar.
4/Percayalah, yang menjengkelkan dari punya hubungan yang berbeda secara keyakinan itu ketika (1) susahnya dapat restu orangtua untuk sekadar dekat, lalu (2) masing-masing dari kita, secara bersamaan, sadar kalau hubungan ini sukar untuk bisa dipertahankan karena perbedaan keyakinan. Selama kami tidak sadar untuk poin yang kedua, hubungan kami baik-baik saja.
Tapi ada satu hal, untuk satu ini, entah kenapa, saya percaya kebetulan. Barangkali memang saya tidak menemukan padanan kata yang tepat saja dari "kebetulan". Kebetulan sekali saya bisa menikmati sebuah guyon yang lahir bukan dari/karena menyakiti. Juga kebetulan sekali, saya hidup tidak di zaman kerajaan; di mana pelawak hanya melucu untuk kalangan istana sahaja. Dan amat kebetulan sekali, saya dan pasangan saya yang dulu punya selera yang sama dalam hal komedi.
5/Edgar Allan Poe pernah menulis cerita pendek yang mengisahkan sisi kelam seorang pelawak kerajaan. Hop-Frog, judulnya. Dia, si pelawak itu, Hop-Frog, adalah pelawak favorit kerajaan. Di antara para pelawak lain, secara fisik Hop-Frog memang berbeda. Entah dari cara berjalan dan bentuk tubuh yang pendek. Untuk kedua alasan ini juga jadi alasan Sang Raja menyukai Hop-Frog.
Pada masa itu tidak ada yang jauh lebih menyedihkan menjadi pelawak. Secara materil mungkin menguntungkan, karena kerajaan dengan suka-rela membayar semua pelawak. Kerajaan, khususnya Sang Raja beserta para menterinya, betul-betul butuh atau haus akan hiburan setelah lelah mengurus dan memikirkan kerajaan.
Sudah begitu, Sang Raja memasang suka sebuah lelucon yang tidak rumit. Barangkali itu juga yang menjadikan Hop-Frog pelawak favorit. Melihatnya berjalan saja sudah pasti ketawa.
6/Jika tawa adalah nafas setiap pelawak di panggung, maka, saya kira, ditertawakan karena fisik yang cenderung abnormal bukanlah cara terbaik memberi "nafas" pada pelawak itu.
7/Pada satu waktu Hop-Frog diberi kesempatan oleh Sang Raja memberi ide untuk pesta topeng yang ingin dilaksanakan di istana. Itulah kesempatan yang dilakukan Hop-Frog di mana ia bisa membalaskan dendamnya. Setidaknya untuk memberinya pelajaran atas sikapnya terhadap dirinya dan pelawak lain.
Hop-Frog mengusulkan: Sang Raja dan para Menterinya dipakaikan kostum monyet, jadi ketika pesta sedang berlangsung Sang Raja keluar untuk menakuti. Semua pintu istana mesti ditutup supaya tidak ada yang bisa kabur keluar. Sang Raja suka ide itu. Katanya, ide gila hanya bisa keluar dari orang gila. Sang Raja tertawa puas.
Di situlah pembalasan dendam dimulai. Ketika pesta topeng berlangsung dan Sang Raja sudah siap keluar untuk menakut-nakuti, Hop-Frog --bersama teman perempuannya-- menyiapkan rencana lain. Sebuah kandang besar disiapkan untuk nantinya menangkap monyet-monyet sialan itu.
Awalnya semua tamu pesta topeng ketakutan akan kehadiran momyet-monyet raksasa itu. Karena jumlah tamu yang banyak dan mereka juga tidak bisa keluar, malah balik melawan. Kandang raksasa dikeluarkan. Atas satu usul Hop-Frog, para tamu diminta memasukkan mereka ke sana. Kandang di angkat. Sang Raja dan para Menterinya dibakar hidup-hidup.
8/Banyak sebenarnya kisah tentang pelawak pada masa kerjaan. Malah saya pernah baca, entah di mana (lupa), kalau pelawak itu tidak lucu maka ia dibunuh --hukuman paling rendah dipenjara. Edgar Allan Poe, saya kira, lewat cerpen itu ingin sekali mengkritik kalangan kerajaan Inggris yang gemar melakukan itu pada para pelawak mereka.
Saya tidak tahu jika ada juga seperti itu di Indonesia. Tidak saya temukan literasinya. Namun ada satu novel yang juga menceritakan tentang hiburan untuk para Raja di Indonesia. Penghibur mereka penyair, bukan pelawak. Dari novel Raden Mandisa si Pencuri Daging Sapi yang dianggit Yusi A. Pareanom menceritakan itu dengan detil.
Para penyair itu diperlakukan sama seperti para pelawak kerajaan. Dibayar jika bisa menghasilkan syair yang bagus, namun dihukum jika gagal membuat syair bila sang raja tidak suka. Maka, pada saat itu beruntunglah para pelawak.
Mungkinkah ini yang terjadi di Indonesia: para pelawak-pelawak ini ditakdirkan lebih dekatnya ke masyarakat. Kemudian karena itulah muncul kesenian tradisional seperti Ketoprak dari Jawa; Lenong dan Topeng dari Betawi dan lain-lain dan seterusnya dan sebagainya. Mungkin. Barangkali karena memang belum pernah saya temukan literasi tentang itu. (Lagi-lagi) Saya menduganya sahaja.
9/Yang membuat saya takut belakangan adalah mengapa nasib naas sering kali menimpa para pelawak kita? Maksudnya, mengapa kini ada pelawak yang (bisa) dihakimi oleh masyarakat kebanyakan? Tepatnya, seperti Sang Raja menghakimi seorang pelawak yang ditugaskan menghibur, namun gagal.
Ini saya tidak bisa luruskan dengan nalar. Bagaimana mungkin dari sebuah lelucon (anggaplah kemudian lelucon itu gagal) lalu berujung pada teror kepada keluarganya yang ingin dibunuh? Dan mengapa terjadi bukan saat pelawak itu tidak di panggung sebagaimana mestinya? Sekejam itukah? Sekelam itukah?
10/Seorang filsuf Jerman dalam bukunya "An Easy on Man" memberi contoh bahwa, pembeda manusia dengan binatang adalah saat di mana keduanya dihadapkan pada makanan. Jika binatang akan langsung mengambilnya, sedangkan manusia cenderung menahannya terlebih dulu, berpikir ulang --walau nantinya sama: makanan itu akan diambil juga.
Menurut Paknya Profesor Tommy F. Awwuy, hal ini cenderung berbalik ketika manusia dihadapkan dengan era digital (atuh iya, mana ada binatang paham dunia digital). Faktor menunda secara simbolik serta-merta hilang, informasi langsung "dilahap" tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Dan bila ini dikaitkan dengan yang terjadi pada pelawak kita ini, tanpa sekalipun ingin menyalahkan beberapa pihak, saya kira memang begitulah keadaannya sekarang. Semakin cepat informasi "dilahap", maka semakin cepat pula bereaksi.
Terlepas dari apapun motif sebuah lelucon dibuat lalu disampaikan, menjadi penting saya kira untuk menundanya terlebih dulu. Dipikirkan maksudnya, baru kemudian bereaksi.
11/ Kebetulan sekali bukan jika era kiwari dengan derasnya informasi membuat kita mudah melupakan yang ada. Isu baru mudah muncul dan menenggelamkan isu lama. Bukan untuk mengingatkan, namun alangkah baiknya sebagaimana orang bijak sering katakan: semoga ini bisa dijadikan pembelajaran. Yang lalu, biarlah berlalu.
Dalam cerita pendek Hop-Frog itu, Edgar Allan Poe malah menutupnya dengan cantik: setelah kejadian itu tidak pernah ada yang tahu ke mana Hop-Frog dan teman perempuannya. Yang jelas mereka berdua tidak pernah kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Kairo Sowan ke Mbah Maimun Zubaer, Ulama Nusantara

Tausyiah singkat Gus Rajih maimun 'Pentingnya mengenang Ulama'

Pengajian Umum Gus Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren Al Hasyimi Kedungw...